Rabu, 13 September 2017

Perjalanan seribu langkah di mulai dengan satu langkah awal (SURVIVAL DASAR WING I LANUD HALIM DI SUBANG)



Kegiatan latihan bertahan hidup di alam terbuka atau Survival Dasar adalah ketrampilan yang wajib dimiliki oleh Insan Dirgantara. Untuk itulah, Wing I Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma menyelenggarakan latihan ‘survive’ di hutan Karet Subang Kalijati.
Sepuluh Tim Suvival menelusuri jalan di pedesaan Kalijati Subang Jabar, Selasa (26/2). Setelah melalui perjalanan selama tiga jam di Tol dari Jakarta ke Kalijati, selanjutnya seratus lima pelaku Survival Dasar, tiba di lapangan desa Cibeunying. Memulai pengalaman survive di tengah hutan, melatih kepekaan untuk dapat bertahan hidup, meningkatkan kekompakan tim.
Selanjutnya, Komandan Latihan Survival Dasar 2013 Pangkalan Udara TNI Halim Perdanakusuma, Mayor Pnb Purwanto memeriksa kelengkapan Peserta. Dan menyebutkan satu demi satu nama pelaku sesuai daftar peserta. Hal ini dilakukan sebelum meninggalkan lapangan awal memulai kegiatan Survival.
            Kafaslat Wing I Lanud Halim, Mayor Pnb Purwanto dalam briefing singkatnya menyampaikan agar masing-masing menjaga keselamatan. Sebab walau situasi cuaca sangat mendukung dimulainya perjalanan menyusuri jalan pedesaan; namun sisa-sisa hujan kemarin cukup mempengaruhi kondisi jalan. Jalan yang tidak rata, bercampur tanah liat, dan licin menambah tingkat kesulitan peserta latihan.
            Setibanya di desa Ciherang, peserta beristirahat sejenak, untuk selanjutnya melakukan kegiatan turun tebing. Jumlah peserta lengkap, beristirahat di keteduhan pohon karet. Sekaligus menunggu instruksi para Pelatih dari Kompi B Paskhas Lanud Suryadharma Subang Kalijati.
            Sertu Bowo Pelatih Paskhas memimpin teknis pelaksanaan Turun Tebing di Desa Ciherang. Instruksinya diikuti oleh para Pelaku. Dilanjutkan dengan jalan Kompas  ke desa Pasir Muncang.
“Ini bagus untuk alternatif jalan-jalan selain jalan-jalan di Mall bagi orang perkotaan”, ujar Sertu Bowo dengan kalem.

a. Turun tebing setinggi seratus meter di desa Ciherang

Selanjutnya, sbanyak seratus lima peserta melaksanakan latihan turun tebing di Desa Ciherang. Setelah berjalan kaki selama satu jam lebih dari start awal Desa Cibeunying.
Dari pengamatan, saat kegiatan Turun Tebing dilakukan, awan gelap telah menggantung di daerah Subang. Untung saja, tidak turun hujan. Tebing dengan tinggi seratus meter dapat dilalui dengan berhasil.
Sedangkan, sungai di bawa tebing, seolah menganga menunggu. Namun, semua peserta sukses mengatasi rintangan ini.
Setelah itu, para Pelatih dari Pasukan Khas TNI AU memberikan instruksi untuk setiap regu melakukan jalan kompas. Membidik di atas peta, dengan memperhatikan arah utara jarum Kompas.
Setiap regu memiliki arah yang berbeda-beda. Tim survival menuruni bukit, membelah hutan, dan memotong sungai dengan aliran air setinggi lutut peserta. Juga menyusuri pematang sawah, kemudian mendaki bukit kembali dan tiba di Desa Pasir Muncang sebagai posko ke dua.
Beberapa regu terlambat tiba di Posko, melampaui target waktu yang ditentukan Panitia. Sehingga, Komandan Latihan Mayor Pnb Purwanto mengambil kebijakan untuk melepaskan tanda di udara demi membantu para pelaku merapat di Posko Desa Pasir Muncang.
Setelah regu terkumpul dengan lengkap, malam Selasa (27/2) dilaksanakan jalan kompas malam. Di pandu oleh Sertu Bowo selaku koordinator Pelatih dari Kompi B Paskhas Lanud Suryadharma Subang Kalijati.

b. Skenario Latihan

            Latihan ini didasarkan pada skenario latihan yang seolah-olah terjadi sebagai berikut. Seperti yang terjadi di awal tahun 2013 ini, kondisi cuaca sangat buruk membayangi Indonesia.
Khususnya di seputaran wilayah Pulau Jawa. Sesuai dengan pengamatan staf Meteo Lanud Halim P, situasi cuaca yang buruk ini diakibatkan oleh adanya siklon Emang yang berada di sekitar pulau Bali. Ditambah adanya low-pressure di wilayah barat Australia.
            Menjadi sebab pertumbuhan awan merata di daerah pulau Jawa termasuk daerah Jakarta dan Jawa Barat. Diiringi dengan intensitas hujan dan kecepatan angin yang tinggi. Sehingga mengganggu kegiatan operasional penerbangan.
            Dalam skenario latihan ini, ada sebuah pesawat angkut yang sedang melaksanakan home flight menuju Lanud Halim P dari arah timur Indonesia. Pesawat ini mengalami kerusakan pada bagian engine (mesin).
            Segera Captain Pilot melaporkan kondisi pesawat kepada Air Traffic Control (ATC) pada frekuensi 127.9 Mhz. Pihak ATC melanjutkan info kondisi pesawat kepada Lanud Halim P.
            Saat itu, kondisi cuaca di Lanud Halim P, dilaporkan bahwa angin 360/25 knots. Jarak pandang lima ratus meter. Keadaan cuaca hujan, diperkirakan bisa bertahan lama satu dua jam ke depan.
            Mengatasi situasi ini, Captain Pilot meminta untuk divert ke Lanud Husein Sastranegara karena berdasarkan laporan jarak pandangan ada tiga sampai empat kilometer.
            Tiba-tiba saat menuju BDG VOR tiba-tiba Captain Pilot melakukan panggilan darurat: “Mayday….mayday….mayday..”.
            Selanjutnya, ATC tidak mendapat sinyal apapun dan pesawat hilang dari monitor radar.
            Berkat kesiapsiagaan crew pesawat dapat melakukan ditching pendaratan darurat dengan sempurna di sebuah waduk di daerah Kalijati.
            Kejadian terjadi pukul 18.00 Wib dengan cuaca mendung dan mulai gelap. Hal ini menyebabkan Tim SAR TNI AU tidak dapat menemukan letak jatuhnya pesawat.
            Ternyata, crew pesawat bermalam di atas permukaan air. Esok harinya melakukan perjalanan mencari pertolongan di pemukiman warga yang terdekat.
            Perjalanan kompas siang ini, cukup jauh, dengan naik turun tebing. Dengan menggunakan tali dilanjutkan dengan penyeberangan sungai.
            Setelah satu hari satu malam berjalan mengatasi rintangan, crew memutuskan untuk bermalam di hutan. Selama di hutan, mendirikan bivak, dan mengkomsumsi segala tumbuhan dan hewan yang dapat dimakan, agar dapat bertahan hidup.
            Dilain tempat Tim SAR TNI AU, mulai menemukan titik terang lokasi jatuhnya pesawat. Ditempat kejadian, ditemukan banyak bekas jejak kaki menuju satu arah.
            Disimpulkan bahwa semua crew selamat sehingga tindakan penyelamatan makin bersemangat untuk melaksanakan SAR.
            Akhirnya, Survivor dapat diselamatkan oleh Tim SAR TNI AU.

c. Wing I Lanud Halim Perdanakusuma sukseskan Survival Dasar

Wing I Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma berhasil menyelenggarakan latihan ‘survive’ di sekitar wilayah hutan Karet Subang Kalijati. Penyelenggara telah bekerja keras dengan kompak sehingga target latihan tercapai.
“Besar tanggungjawab penyelenggara maka salut buat Pendukung maupun Pelaku” kata Kolonel Pnb Fajar Prasetyo, S.E.
Komandan Wing I Lanud Halim P saat memimpin upacara penutupan Latihan Survival dasar di Desa Cikuni Subang Kalijati, Kamis (28/2).
Setelah bermalam di hutan selama dua hari, peserta latihan dapat berbangga sebab mampu melampaui semua tantangan di lapangan. Dari pengamatan yang ada, bermalam di atas air merupakan tantangan terberat.
Sejak sore hari dari Rabu (27/2) hingga pagi hari Kamis (28/2) pelaku telah berlatih dengan menggunakan media air.
Penyeberangan basah serta teknik penggunaan sekoci diajarkan oleh Tim SAR Koopsau I bekerjasama dengan Instruktur Pelatih dari Kompi B Paskhas Lanud Suryadharma Subang Kalijati.
Sehari sebelumnya, sebanyak sembilan puluh tujuh peserta berjalan di tengah rimbunnya hutan karet. Beberapa diantaranya sempat menderita keseleo sebab jalanan yang licin dan berbatu.
Start awal dari Desa Pasir Muncang pada pukul tujuh pagi hari, dan tiba di desa Cikuni pada pukul sebelas siang. Perjalanan berjam-jam ini cukup menguji ketahanan mental para peserta.
Kondisi kaki lecet tidak menyurutkan semangat peserta untuk menempuh jarak berkilo-kilo meter. Selanjutnya, latihan pengenalan jenis tumbuhan maupun binatang hutan yang dapat di konsumsi, diberikan oleh Pelatih Paskhasau.
Kemudian pada pagi hari berikutnya, penyelamatan Survivor dengan menggunakan pesawat Helikopter dari Lanud Atang Sendjaya Bogor. Dinamakan penyelamatan dengan teknik hoist.
Selesai upacara penutupan, peserta dan penyelenggara, maupun pelatih bersama-sama warga setempat jamuan makan siang bersama di lapangan sepakbola Desa Cikuni.
“Perjalanan seribu langkah di mulai dengan satu langkah awal”. Pengalaman Basic Survival ini meningkatkan koordinasi antar satuan kerja, memupuk kekompakan dan membangun kebersamaan serta kesatuan anggota Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma.***

Tidak ada komentar: