Kamis, 14 September 2017

GARUDA-KOOKABURRA 2015 DI PMPP TNI SENTUL BOGOR



Beberapa hari yang lalu, tepatnya pada 20-30 April 2015, latihan bilateral antara Indonesia dan Australia diadakan di PMPP (Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian) TNI, bertempat diatas salah satu bukit ‘Santi Darma’ yang terkenal di daerah Sentul Bogor.
            Berdasarkan Surat Telegram Panglima TNI NR ST/446/2015 tanggal 8 April 2015 tentang permintaan personil untuk kegiatan latihan bersama Garuda-Kookaburra 2015 antara TNI dan ADF (Australian Defence Force), maka diperintahkan tiga puluh personil perwira berpangkat kapten sampai dengan mayor termasuk empat orang personil WAN TNI untuk mengikuti kegiatan ini.
Wanita TNI yang beruntung kali ini adalah Mayor (CAJ) Tety Mulyati (Kowad); Mayor Sus Michiko Moningkey (Wara); Mayor (Kes) dr. Sarah (Kowad); dan Kapten (KH/W) Febi Janis, S.Si (Kowal). Sedangkan Women Military ADF (Australian Defence Force) adalah SGNLDR. Lauren Flaherty; FLTLT. Dominique Hoffman dan LEUT. Clare Randall.
            Selama dua minggu, ketujuh perwira ini telah bergabung dengan tiga puluh lima personil pria militer lainnya untuk mengikuti seminar staf maupun aplikasi di lapangan. Dan inilah laporan singkat tentang serangkaian pengalaman dan pengetahuan saat melaksanakan tugas belajar di PMPP TNI Sentul Bogor.
            Garuda-Kookabura 2015 atau disingkat GK15, untuk pertama kalinya diadakan pada tahun 2013. Dan tahun 2015 ini merupakan kelanjutan dari kesepakatan kerjasama diantara kedua militer, dalam operasi-operasi perdamaian yang berada dibawah naungan Perserikatan Bangsa Bangsa (United Nations).
Kata sandi Garuda adalah kata yang artinya tentu saja telah diketahui oleh pembaca. Sedangkan Kookaburra adalah kata sandi yang digunakan untuk mewakili Australia dalam latma ini. Kookaburra adalah sejenis burung yang hidup dan banyak ditemui di benua Australia dengan suaranya yang khas. 
            Sesuai dengan sumber-sumber multi dimensi dalam operasi perdamaian PBB, ADF (Australian Defence Force) dan Mabes TNI yang terdiri dari AL, AD dan AU telah berpartisipasi dalam GK15. ADF mengirimkan dua belas peserta termasuk tiga wanita militernya dan Indonesia mengirimkan tiga puluh peserta termasuk empat WAN TNI. Seluruhnya berjumlah empat puluh dua partisipan.
            Latihan bersama GK15 dengan materi operasi perdamaian ini diselenggarakan oleh TNI sebagai Tuan-Rumah. Diorganisir pelaksanaannya oleh PMPP TNI serta bekerjasama dengan ADF yang mengirimkan tenaga ahli pengajar tentang negosiasi komunikasi serta beberapa tenaga pendukung lainnya.
            GK15 ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan seorang Pengamat Militer (Military Observer) agar mampu memberikan kontribusi yang produktif pada misi-misi perdamaian PBB.            Secara luas, diharapkan hasil yang diperoleh dari pelatihan ini akan tetap mengembangkan pengertian bersama diantara kedua negara dalam operasi misi-misi perdamaian PBB.
            Para peserta dilatih sekaligus dilengkapi dengan berbagai pengetahuan tentang negosiasi dan komunikasi, pembelajaran tentang berbagai hal yang kemungkinan terjadi di daerah misi. Serta mempraktekkan teknik-teknik terbaik, taktik maupun prosedur dalam melaksanakan tugas-tugas dan tanggung-jawab sebagai seorang pengamat militer di lapangan.
            Seperti yang disadari dalam era saat ini, tantangan-tantangan yang dihadapi dalam operasi pemeliharaan perdamaian modern semakin kompleks dan bersifat multidimensi. Hal ini membutuhkan personil yang profesional dan mampu mengatasi segala bentuk situasi dan kondisi di lapangan.
            Yakni seseorang yang memahami struktur dan fungsi operasi perdamaian PBB termasuk kesatuan operasi. Mengerti faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan operasi perdamaian. Termasuk segala aturan internasional, juga segala bentuk organisasi pemerintah maupun non-pemerintah yang memberikan kontribusi besar dalam misi bantuan kemanusiaan.
            Sebab seorang pengamat militer adalah mata dan telinga untuk misi perdamaian United Nations. Hasil observasi dan penilaian para Military Observer UN akan membantu memberikan gambaran secara nyata, bagaimana situasi di daerah konflik.
            Untuk memastikan netralitas dan objektivitas, para Pengamat Militer dengan tidak bersenjata, akan melaksanakan patroli di zona keamanan sementara serta di daerah sekitarnya. Mereka diorganisir dalam tim yang terdiri dari berbagai negara. Bekerja saling mendukung dan selalu bersama-sama dalam pergerakan di lapangan.
            Tugasnya yang utama adalah memonitor dan melaporkan tentang kondisi keamanan di dalam daerah tanggungjawabnya. Menyelidiki dan mendokumentasikan jika terjadi pelanggaran genjatan senjata. Pencapaian tugas-tugas itu sangat penting untuk keberhasilan suatu misi perdamaian.
Dan GK15 diharapkan akan meningkatkan pengertian tentang strategi dan rencana operasi dalam kompleksitas dan multidimensi misi perdamaian PBB. Dengan mengutamakan jaringan kerja, interoperabilitas dan kemampuan kedua negara yang berhubungan dengan latihan kepemimpinan dalam operasi misi perdamaian.
            Di pelatihan singkat ini, banyak hal dipelajari, namun yang terutama adalah mampu melengkapi diri untuk menjadi seorang Military Observer UN yang profesional. Setiap partisipan sangatlah mengakui bahwa pentingnya jaringan kerja ditingkatkan serta hubungan kekeluargaan dimantapkan. Apalagi antar sesama wanita Peacekeepers sangatlah terasa hubungan kekerabatannya.
            Dalam kursus singkat ini, ada kesadaran betapa pentingnya tugas yang diemban oleh seorang Pengamat Militer. Selama dikumpulkan dalam satu kelas, menggunakan bahasa pengantar English-Australia, hal ini tentu saja semakin menyadarkan akan multidimensi tugas dan multinasional dalam misi perdamaian PBB.
            Suasana kelas sangatlah hidup dan menarik. Antusiasme para partisipan sangatlah tinggi. Hal ini dibuktikan dengan hasil evaluasi diakhir kegiatan. Para instruktur, tenaga pengajar ahli maupun Role-Player telah mengajar dan bertindak dengan cara memikat. Sehingga meningkatkan kesungguhan untuk belajar mempelajari materi lebih mendalam.
            Beberapa pertanyaan berkembang dengan sendirinya. Serta pembagian kelompok telah meningkatkan kemampuan peserta untuk penerapan di lapangan. Selama dua hari kami diperhadapkan dengan skenario peristiwa yang pada umumnya terjadi di daerah misi PBB.
            Skenario GK 2015 disusun dalam suatu negara fiktif bernama Sentalu. Dimana dalam alur ceritanya digambarkan konsekuensi dari konflik sengketa internal yang berkepanjangan. Politik, ekonomi dan situasi kemanusiaan yang memburuk, yang tidak mampu diatasi yang dapat mempengaruhi stabilitas keamanan regional. Situasi yang buruk ini mendapat perhatian dari dunia internasional, yang telah mendesak PBB agar segera melaksanakan misi perdamaian seperti yang tertera pada Piagam PBB Chapter VII.
            GK15 mengikuti rangkaian operasi berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan PBB, sesuai dengan urutan rencana misi dan diakhiri dengan berbagai penanganan masalah-masalah khusus. Hal ini membutuhkan kerjasama dan interaksi diantara semua komponen misi yakni dari Markas Besar maupun dari agen-agen bantuan internasional di daerah misi.        Perhatian besar ditekankan pada The Principles of Use of Force, Rules of Engagement=ROE, dan Protection of Civilians=PoC.
                   Sampai akhir pelatihan, semua partisipan merasakan besarnya faedah mengikuti GK15. Hal ini diakhiri dengan sangat baik oleh personel ADF maupun TNI. Kekeluargaan sangatlah terjalin dengan erat dan terutama tingkat kesiapan masing-masing personel semakin tinggi untuk misi perdamaian. Hal ini dibuktikan dengan berhasilnya para peserta mengatasi setiap tantangan di lapangan. Demikianlah sekilas tentang GK15. ‘Garuda-Kookaburra 2015 untuk dunia yang lebih baik dan damai’.***



Tidak ada komentar: