Daftar TNI Tidak Pungutan Liar (Kisah Nyata 1)
Psst.. writing by Michiko Moningkey is here! Michiko is the owner of this blog. Which is the way to explore my mind with writing, sharing many interesting experiences. So that why Michiko named this blog "All things are possible". That however small we may see ourselves, we can still dream big, and that nothing is impossible. That we can pursue any kind of dream we have, as long as we're not giving up, as long as we keep on trying, and as long as we're doing our best.
Awal tahun 2026 Indonesia mengalami duka dirgantara. Tragedi jatuhnya pesawat ATR 42-500 di puncak Gunung Bulusaraung Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan.
Berawal dari laporan dua
pendaki muda, Reski (20 thn) dan Muslimin (18 thn), yang saat peristiwa Sabtu
(17/01/2026) tengah berada di ketinggian menjadi saksi mata langsung.
Seperti yang dikutip
dari IG kuatbacacom, Reski menceritakan, dari posisi mereka di puncak gunung,
sebuah pesawat tiba-tiba melintas dengan ketinggian rendah. Beberapa saat
kemudian terdengar dentuman keras, pesawat itu menghantam lereng Gunung
Bulusaraung.
“Saya lihat, pesawatnya,
dikikis (mengikis) itu gunung (Bulusaraung), lalu meledak dan terbakar,” cerita
Reski.
Pesawat yang dimaksud
ternyata adalah ATR 42-500 dengan nomor registrasi PK-THT milik Indonesia Air
Transport. Saksi mata mengatakan peristiwa terjadi sekitar pukul 13.00 Wita.
“Sekitar jam satu siang (13.00 Wita),’ ujar Reski yang jarak dirinya dengan
lokasi ledakan hanya sekitar 100 meter.
![]() |
| Rescue Hoist oleh Tim SAR Udara (Foto IG Korpasgat 2026) |
Informasi ini
mengarahkan tim SAR Gabungan ke puncak Gunung Bulusaraung. Kecelakaan
ini menyatukan seluruh elemen masyarakat Indonesia dalam kesatuan gerakan
kemanusiaan SAR (Search
and Rescue), termasuk petani pencari
madu di hutan Bulusaraung. Dan
juga, relawan Abdul Haris Agam atau yang dikenal sebagai Agam Rinjani.
Operasi SAR Gabungan langsung digelar
oleh Badan SAR Nasional dalam rangka pencarian,
pertolongan, dan penyelamatan personel dan materil pesawat.
Operasi SAR melibatkan
unsur dari Basarnas Makassar, TNI, Polri, AirNav, PMI. Pasukan Gerak Cepat TNI
AU bahkan para Petani Pencari Madu di sekitar Gunung Bulusaraung.
Kerjasama lintas satuan
dan koordinasi intensif dengan seluruh unsur terkait. Operasi SAR Gabungan
berhasil dengan susah payah menemukan seluruh korban.
Pencarian melalui jalur
udara merupakan satu-satunya alternatif yang memberikan harapan. Sebelumnya,
diberitakan, pesawat ATR Indonesia Air rute Yogyakarta-Makassar hilang kontak
di kawasan Leang-leang Maros, pada Sabtu (17/01/2026).
Esok harinya, Minggu
pagi (18/01/2026) Tim aju SAR Gabungan di dalamnya ada Tim SAR Pasukan Gerak
Cepat TNI AU dengan dukungan helikopter Caracal TNI AU, berhasil menemukan
reruntuhan pesawat ATR 42-500.
Serpihan pertama pesawat
terpantau pada pukul 07.46 Wita. Diduga bagian jendela pesawat, ditemukan di
koordinat 04 derajat 55’ 48” Lintang Selatan dan 119 derajat 44’ 52” Bujur
Timur.
Selang tiga menit
kemudian, tepat pukul 07.49 Wita, tim aju yang berada di dalam pesawat
Helikopter Caracal TNI AU kembali menemukan bagian badan pesawat berukuran
besar di sekitar lokasi jatuhnya pesawat.
Pesawat
helikopter TNI Angkatan Udara yang diawaki Kapten Penerbang Rahman dan Letda
Penerbang Meidy dari Skadron Udara 8 Grup Heli, yang membawa Tim Aju SAR
Gabungan termasuk Yon Parako 473 Pasukan Gerak Cepat TNI AU, terbang
menjelajahi area yang di duga jatuhnya pesawat tersebut.
Penemuan kembali terjadi
pukul 07.52 Wita, bagian depan pesawat dalam kondisi terbuka, sementara itu,
bagian ekor pesawat berada di sisi selatan lereng bawah lokasi kejadian.
Pukul 08.02 Wita,
serpihan besar lainnya terpantau melalui udara dengan Helikopter Caracal,
lokasinya di area dengan kondisi medan ekstrim dan terjal.
![]() |
| Tim SAR Udara supali logistik bagi Tim SAR Darat yang bertahan di lereng puncak gunung Bulusaraung wilayah Pangkep Sulawesi Selatan Indonesia (Foto IG Korpasgat 2026) |
“Penemuan serpihan pesawat ini menjadi clue penting dalam mempersempit area pencarian. Tim SAR Gabungan fokus pada pengamanan lokasi, pendataan temuan, serta penyesuaian taktik operasi sesuai dengan kondisi medan di lapangan,” ujar Arif Anwar selaku SAR Mission Coordinator (SMC), sehari-harinya menjabat sebagai Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar.
Keberhasilan kegiatan pencarian, pertolongan, dan
penyelamatan sangatlah ditentukan oleh kemampuan personel dan sarana prasarana
yang menunjangnya.
Berdasarkan berita yang dikutip dari IG terkinidotid, Tim
Aju yang tampak di video, Pasukan Gerak Cepat TNI AU langsung diterjunkan di
puncak Gunung Bulusaraung.
Sebab, salah
satu kemampuan prajurit Pasukan Gerak Cepat TNI AU adalah Search And Rescue Combat atau SAR Tempur dalam kegiatan operasi mencari dan menolong Survivor.
Operasi SAR Tempur oleh flight SAR Tempur Pasukan Gerak
Cepat dilaksanakan oleh Tim Penolong dan Tim Pengaman yang mempunyai syarat
kemampuan dan organisasi tugas tertentu.
Walaupun
tentu saja, keberhasilan SAR Tempur dipengaruhi pula
oleh faktor cuaca, situasi dan kondisi medan di mandala operasi. Pasukan Gerak Cepat TNI
AU dalam Search And Rescue Combat, memiliki kemampuan meteorologi,
komunikasi elektronika dan kerja sama pesawat terbang.
Mereka memiliki kemampuan untuk melindungi, memberikan pengamanan unsur
pesawat yang akan melakukan penjemputan Tim Penolong. Didalam evakuasi korban (Survivor) serta
melaksanakan peran komunikasi elektronika dan KSPT.
Hal ini sangatlah penting sebab jarak dari lokasi
kejadian ke Posko 9 sangatlah jauh dan sulit, jika melalui jalur darat. Seperti
yang diungkapkan oleh salah satu anggota Tim SAR Gabungan, medannya seperti
“mata gergaji”.
Naik gunung dan turun gunung, sehingga satu-satunya
harapan hanyalah mengangkat naik, korban ke puncak gunung, ke check point
lokasi penjemputan oleh pesawat Helikopter.
Dalam operasi SAR Tempur ini diperlukan beberapa
kemampuan lainnya. Yakni, kemampuan taktik dan teknik menuju lokasi musibah.
Mengatasi ancaman dan melaksanakan pelolosan serta kemampuan melaksanakan
pertolongan medis dan penyelematan korban keluar dari lokasi kejadian untuk
dibawa ke daerah yang lebih aman.
Tim Aju menyampaikan kebutuhan peralatan tambahan berupa
perlengkapan mountaineering atau climbing untuk menjangkau lokasi yang memiliki
medan terjal. Bahkan salah satu jenazah korban ditemukan tersangkut dipohon
hingga akhirnya berhasil di evakuasi.
Menurut Arif (SMC), medan lokasi kejadian cukup menantang
dan memerlukan dukungan peralatan khusus. “Beberapa titik berada di area lereng
gunung dan membutuhkan peralatan mountaineering.
Keselamatan Tim Penolong dan Tim pengaman tetap menjadi prioritas utama kami
dalam menjalankan operasi ini,” jelas Arif (SMC).
Flight SAR Tempur
Pasukan Gerak Cepat TNI AU pastilah membekali dirinya dengan beberapa perlengkapan.
SCRU, Tali Karmantel 50m, GPS, Senter Lapangan, Panel,
Bad Parking, Sarung Tangan, Pule
Single,_ Protector_, Penggaris, Kompas, Wibing (ini untuk Jump Master). Dan ½ Body Harnest, Senter Besar, Teropong Siang
(khusus untuk Full Body
Harnest).
Dengan tekad dan niat tulus untuk
menolong, Tim SAR Gabungan
melangkah melalui jalur darat memulai pencarian. Melalui Posko Aju, di Desa Tompo Bulu, Kecamatan
Balocci, Pangkep.
![]() |
| Yon Parako 473 Pasgat dukung SAR Udara pesawat ATR 42-500 PK-THT di wilayah Pangkep Sulawesi Selatan Indonesia (Foto IG Korpasgat 2026) |
Ternyata medan terlalu curam dan terjal dengan tingkat kemiringan hingga sembilan puluh derajat. Punggungan Gunung Bulusaraung ternyata tidak mendaki lurus dari dasar hingga puncak. Punggungan-punggungan itu banyak diapit oleh lereng curam belasan, puluhan, bahkan ratusan meter ke bawah. Ciri khas pegunungan di Indonesia.
Kondisi medan yang ekstrim,
cuaca yang tidak menentu, serta akses yang sulit. Tebing-tebing gunung yang curam
sehingga sungguh tidaklah mungkin untuk bertindak sendirian tetapi haruslah
melakukan turun tebing. Penyelematan di medan terjal menggunakan teknik vertical
rescue, info seperti yang dikutip dari Agam Rinjani.
Untuk pindah punggungan, harus lebih
dulu menuruni lereng yang teramat curam yang kedalamannya sering tak
dapat diprediksikan, ada yang sekitar 250 meter dari puncak gunung.
Rencana
gerak untuk melakukan evakuasi adalah
taktis pertolongan di darat, serta rencana penetrasi udara. Dengan bantuan
penelusuran dari unsur SAR Udara.
Dengan adanya foto udara, telah
diketahui secara pasti titik koordinat jatuhnya pesawat ATR 42-500. Tim SAR Gabungan termasuk Basarnas Mamuju, Basarnas Kendari, Basarnas Palu,
Basarnas Jawa Tengah, langsung bergerak menuju lokasi kecelakaan pesawat.
Tim SAR Gabungan menembus tantangan utama dalam
menjalankan operasi kemanusiaan ini. Basarnas bersama seluruh unsur SAR
Gabungan memastikan operasi pencarian dan pertolongan akan terus dilakukan
secara maksimal, terkoordinasi, dan sesuai dengan prosedur. Bertujuan menemukan
seluruh korban.
Seperti tampak dalam video-video yang diberitakan, kenyataannya kendala
dilapangan sangat ekstrim. Tertutup
dengan kabut
tebal. Hal ini menyulitkan tim SAR untuk
jarak pandangnya. Cuaca
yang selalu berubah-ubah.
Bahkan salah satu korban berhasil ditemukan di dalam
jurang sedalam sekitar 200 meter di wilayah Pegunungan Maros-Pangkep Sulawesi
Selatan, Rabu pagi (21/01/2026). Berhasil diangkat dari lokasi menggunakan
helikopter Basarnas Dauphin HR-3601. Itupun setelah kabut tersingkap. (Sumber:
IG makassar_info_tod...).
Ketika kabut tersingkap, setapak demi
setapak Tim SAR Gabungan menyisir area, mendekati lokasi jatuhnya pesawat.
Sehingga cara satu-satunya yang ditempuh adalah dengan memaksimalkan fasilitas
yang ada.
Senantiasa
berkoordinasi dengan satuan atas. Selalu berkoordinasi dengan posko tentang
keadaan medan dan cuaca serta berupaya untuk membuka jalan baru demi memudahkan
evakuasi dari lokasi kecelakaan.
Salah satu kemampuan Tim SAR Tempur Pasukan Gerak Cepat
TNI AU adalah kemampuan
melakukan “SERE”
(Survival, Evasion,
Resistance, Escape). Yon Parako 473 Pasgat dipimpin Letda Pasukan Iwan
Bandola telah mendaki menuju puncak Gunung Bulusaraung guna mendukung
komunikasi radio dengan pesawat Helikopter. Serta mempersiapkan pendaratan
pasukan dan evakuasi di medan sulit dna terjal.
Tim Yon Parako 473 Pasukan Gerak Cepat ini atau sekarang
disebut Pasgat, mampu
menentukan titik pendaratan pesawat terbang di daerah pelolosan untuk
melaksanakan evakuasi korban. Mereka diperlengkapi untuk hal itu. Sebab, mereka harus
membuka area di medan ekstrim sekalipun untuk memungkinkan pesawat Helikopter
SAR mendarat. Jika memungkinkan dilakukan pendaratan.
Tim SAR Gabungan melakukan pendakian melalui jalur yang
dapat dilalui walaupun dengan tingkat kesulitan tersendiri. Melalui Posko
Aju, di Desa Tompo Bulu, Kecamatan Balocci, Pangkep.
Hujan yang terus turun dan kabut tebal menyelimuti
kawasan, membuat proses pendakian berlangsung dalam kondisi ekstrim dan penuh
resiko. Pakaian basah sangat berbahaya karena menyedot panas tubuh yang
berharga. Tim SAR Gabungan harus menghindari bahaya terpapar udara dingin yang
dapat membawa bencana.
Ada 10 personel SAR Gabungan terpaksa bermalam di lokasi jurang dan menunggu upaya evakuasi esok harinya. Itupun sambil berharap cuaca memungkinkan (Sumber: tribuntimurdotcom/vt). Tanpa naungan, kemungkinan besar Tim SAR Gabungan menggigil kedinginan pada malam hari. Atau, ketika mereka tidak bergerak untuk waktu yang lama saat menunggu evakuasi oleh Tim SAR Udara.
Serpihan-serpihan badan pesawat berhamburan dengan lokasi temuan korban yang dievakuasi di antara 100 sampai dengan 500 meter dari puncak gunung Bulusaraung. Hingga akhirnya seluruh korban pesawat naas ditemukan, setelah ditemukannya Co-Pilot ATR 42-500. Evakuasi terakhir untuk lima korban dilakukan menggunakan pesawat helikopter Caracal TNI AU dari lereng gunung Bulusaraung. Evakuasi berjalan aman dan lancar, Jumat (23/01/2026).
![]() |
| Kerjasama Tim SAR Darat dengan Tim SAR Udara untuk rescue hoist (Foto IG Korpasgat 2026) |
Penulis ingin
menceritakan evakuasi melalui jalur udara tersebut menjadi tahap krusial. Setelah
Tim SAR Gabungan berhasil menaikkan jenazah ke titik aman di tengah medan
pegunungan yang curam.
Penetrasi
melalui udara dilakukan dalam rangka mendapatkan ruang gerak yang leluasa bagi
Tim Penolong untuk persiapan pelaksanaan evakuasi.
Seperti yang sudah diinfokan sebelumnya, salah satu
kemampuan Tim SAR Tempur Pasukan Gerak Cepat TNI AU adalah kemampuan melakukan “SERE” (Survival, Evasion, Resistance, Escape).
Serta
kemampuan menentukan titik pendaratan pesawat terbang di daerah pelolosan untuk
melaksanakan evakuasi korban. Cuaca yang berubah-ubah dan
tidak dapat diprediksikan, saat pagi hari, kabut naik dari bawah, naik dan
selalu menutupi puncak Gunung Bulusaraung.
Cuaca saat
itu sangat tidak mendukung untuk dapat dilakukan evakuasi jenazah. Tim evakuasi atau SAR Udara sangat menolong pekerjaan evakuasi yang dilakukan
oleh tim SAR darat, apalagi dengan bantuan hoist.
Cara ini digunakan untuk menjangkau
tim SAR darat yang berada di lereng gunung yang curam. Teknik ini
digunakan saat helikopter tidak memungkinkan untuk mendarat karena lokasi yang
terjal dan sempit.
Teknik ini juga digunakan terutama menyuplai dukungan logistik
demi memelihara dan menjaga moril seluruh personel SAR Gabungan yang telah berada di tebing gunung.
Berhari-hari personel
dari masing-masing satuan yakni dari Basarnas, TNI, Polri, PMI, Relawan dan
penduduk setempat, melaksanakan
pencarian melakukan evakuasi.
Hal ini sangat menguras tenaga sebab
kondisi korban yang sudah berhari-hari tergeletak didasar jurang dan
membengkak. Berat jenazah
menambah tingkat kesulitan tim dalam melakukan evakuasi, apalagi diambil dari
dasar jurang.
Menilik dan mempelajari kondisi dan
situasi yang terjadi, maka diputuskan untuk evakuasi lewat jalur udara dengan pesawat Helikopter.
Keputusan ini tepat sekali sebab menolong meringankan pekerjaan evakuasi,
dibandingkan dengan mengangkut jasad melalui rute darat dengan medan yang mustahil dilalui.
Komandan Tim SAR Tempur
Pasukan Gerak Cepat selanjutnya
memikirkan bagaimana caranya bagi pesawat heli menjangkau paket korban. Sehingga memudahkan tim SAR udara mengevakuasi dengan aman.
Pembuatan lokasi
penjemputan ini sangat membutuhkan kejelian mata oleh tim,
sebab sebagian besar area berada dalam keadaan yang terjal dan curam, dekat dengan lokasi
terjadinya kecelakaan.
Kelebihan lainnya dari Tim SAR Pasukan Gerak Cepat TNI AU ini adalah dilengkapinya tim dengan
keahlian khusus seperti Parking
Master. Para Penerbang TNI AU yang mengawaki pesawat Helikopter sangat bergantung
kepada kehandalan tim ini didalam memandu maupun menuntun mereka menempatkan
badan pesawatnya tepat di garis Heli
pad. Atau tepat di atas paket korban yang akan diangkut
secara Rescue Hoist.
Setiap
harinya ada Parking Master
yang dengan jeli memberi kode pendaratan ataupun untuk rafling bagi pasukan yang
lainnya. Atau rescue hoist di lokasi
puncak gunung.
Sebagai Ground-Crew, tugas ini sangat penting
bagi keselamatan semua anggota SAR di udara maupun yang
berada di darat.
Dukungan logistik dari Lanud Hasanuddin seperti ransum TNI dan
makanan serta minuman,
sangatlah membantu Tim SAR Gabungan di puncak Gunung Bulusaraung ketinggian 1.353 mdpl.
Apalagi dukungan logistik bagi
personil di gunung, sangatlah menentukan keberhasilan evakuasi. Seandainya
pesawat heli tidak dilibatkan, maka mungkin saja personil akan terpaksa puasa
dua hari.
Padahal dinginnya iklim di ketinggian
Gunung Bulusaraung
merupakan satu tantangan yang sangat menguji keteguhan hati para Tim SAR darat yang berusaha menaklukkan puncak Gunung Bulusaraung. Masalah cuaca
dingin dan paparan udara dingin adalah ancaman yang terus ada.
Hal ini patut dilakukan sebab
mengingat beratnya medan serta beratnya korban yang telah berhari-hari
terabaikan. Belum lagi mengingat bau tajam yang menusuk hidung. Dibutuhkan
mental dan jiwa besar didalam melakukan kerja kemanusiaan ini.
Dengan tidak mengingat diri sendiri,
seluruh tim mengumpulkan satu persatu serpihan serpihan pesawat dan
anggota-anggota badan korban. Cuaca yang dingin, medan yang terjal, bau yang
menyengat menuntut kesigapan yang tinggi dari Tim SAR Gabungan.
Untung saja, hal ini didukung dengan
adanya suply logistic melalui udara. Adanya Parking Master yang mampu menuntun Tim SAR
Udara didalam menyuplai makanan serta dalam melaksanakan evakuasi
melalui udara.
Para personel Tim SAR Gabungan terpaksa bermalam dengan posisi tidur
seadanya dan berdampingan dengan kantong-kantong mayat di puncak gunung sebab
cuaca tidak memungkinkan untuk dilakukan evakuasi oleh Tim SAR
Udara, pada sore harinya.
![]() |
| Tim SAR Gabungan mengangkut jenazah untuk diotopsi lebih lanjut (Foto IG Korpasgat 2026) |
Sebab kabut telah perlahan naik dan menutupi puncak gunung sehingga harus menunggu sampai keesokan harinya. Namun, akhirnya evakuasi lima korban terakhir berhasil diangkut oleh Tim SAR udara. Kepala Basarnas secara resmi menyatakan pencarian dan evakuasi diakhiri Jumat (23/01/2026), setelah semua korban telah ditemukan.
Tim SAR Gabungan yang ahli dalam taktik dan tehnik bertahan hidup
di alam, telah melaksanakan tugas mulia. Seluruh korban kecelakaan pesawat ATR
42-500 berhasil di evakuasi dan diserahkan kepada keluarganya untuk dimakamkan
dengan layak.
Salut melihat kinerja
Tim SAR Gabungan. Terbukti, kepedulian sosialnya orang Indonesia sangatlah
tinggi. Hal ini tampak nyata pada peristiwa evakuasi korban kecelakaan pesawat
42-500 di Gunung Bulusaraung awal tahun 2026 ini.
Medan boleh sulit, cuaca
boleh ekstrim, tapi semangat kemanusiaan SAR Gabungan tak pernah surut. Disamping
itu, inilah bentuk komitmen serta kesiapsiagaan TNI Angkatan Udara, terlebih
khusus Pasukan Gerak Cepatnya (Pasgat TNI AU) dalam mendukung operasi
kemanusiaan serta bersinergi dengan BASARNAS dalam penanganan keadaan darurat.
Komentar
Posting Komentar