Rabu, 15 Juni 2016

OLEH-OLEH KURSUS DI NEGERI KANGGURU



OLEH-OLEH KURSUS DI NEGERI KANGGURU
Kisah singkat perjalanan mengikuti pendidikan
Kursus Strategi Komunikasi di negeri Kangguru
Tulisan ini muncul saat ingat adanya kesempatan berbagi pengalaman dengan rekan sekantor. Bagiku adalah baik untuk sharing pengalaman. Ini akan banyak membantuku dalam penulisan artikel selanjutnya.
Mayor (Sus) Michiko Sanra saat mengikuti Kursus Strategi Komunikasi
Sungguh merupakan suatu kesempatan yang sangat berharga dapat terpilih dan diutus. Untuk mengikuti kursus strategi komunikasi yang disponsori oleh pemerintah Australia. Terutama bagi diriku sebagai orangtua tunggal (Singleparents). Ini kesempatan menjadi contoh figur teladan bagi anakku. Bahwa “Nothing is impossible”.
Perayaan Hari Kartini, anakku Miracle berdiri paling kanan mengenakan baju hijau
Ini juga kesempatan emas bagiku untuk menabung dan kegunaannya bagi pendidikan anakku satu-satunya. Walaupun harus diganti dengan meninggalkan anakku selama tiga minggu dibawah asuhan Kamelia (Babysitter-nya dahulu semasa Miracle baru lahir).
Bersyukur, Lia bersedia menggantikanku selama kepergianku ke LN. Dia datang dari Jakarta. Lia seperti malaikat kecil ku yang diutus Tuhan untuk menolong ku. Di saat benar-benar daku membutuhkan uluran bantuan dari orang lain.
Mengenai perjalanan ini, sesungguhnya banyak hal berharga yang kudapatkan. Jujur, perjalanan ini sangatlah jauh berbeda dengan pengalamanku sebagai Women Peacekeepers di Southern Libanon pada tahun 2010.
Setelah urusan domestik daku selesaikan. Berangkatlah daku menuju Jakarta dengan kereta api. Tepatnya dua hari sebelum berangkat menuju Melbourne. Sudah dapat kubayangkan perjalanan yang sangat kemerungsung ini akan segera kumulai.
Di Jakarta kuselesaikan semua administrasi. Terutama mengantongi paspor dan surat tugas belajar dari Panglima TNI. Serta Surat Perintah dari Kasau untuk mengikuti Strategic Communication Workshop di Aussie. Pemeriksaan kesehatan telah kulakukan pada jauh-jauh hari.
Itulah sebabnya selama bulan April, entah telah berapa kali daku bolak-balik Jakarta-Jogja untuk melengkapi semua berkas administrasi termasuk melengkapi diri dengan sertifikat kesehatan.
Dua hari sebelum keberangkatan ke Australia, saya menyelesaikan ijin berangkat ke beberapa bagian terkait. Ke Kabagbinwara, ke Disdikau, ke Dispenau, dan terutama ke Dik LN Spers TNI Mabes TNI.
Ya, ini yang penting sekali sebab uang saku diterima dari Mabes TNI. Tidak banyak melimpah, namun lebih dari cukup. Terimakasih. Sebab sesuai dengan bunyi Surat Perintah, penerbangan pergi dan pulangnya ditanggung oleh pemerintah Australia sedangkan uang saku ditanggung oleh Mabes TNI. 
Oh, sehari sebelum berangkat, sempat mengisi acara show live Night with Judika di Trans TV. Bertemu dengan Titi Puspa, figur artis yang terkenal dan menjadi panutan bagi seniman seniwati muda di zaman sekarang. Peringatan Hari kartini.

Tiba saat keberangkatan. Sebenarnya dari sore hari daku sudah berada di ruang tunggu bandara Soeta Terminal Dua. Sambil menunggu rekan partisipan kursus dari TNI AD.
Namun mendekati saat harus check-in, orangtua meminta kesediaan saya untuk mengirimkan uang. Masalahnya, uang yang ada ditangan, adalah uang tunai berbentuk dolar.
Jadi, harus menukarnya dalam bentuk rupiah. Dan bergegas ke Terminal Satu dengan bantuan ojek bandara. Hanya di Terminal Satu yang memiliki mesin ATM setor tunai. Saya pun mengirimkan uang kepada Ibu yang berada di Manado. Dan sekaligus mengirimkan biaya hidup bagi anakku yang ada di Yogya.
Dengan berlari-lari sayapun memasuki pintu yang dijaga oleh bagian Imigrasi. Mereka sangatlah tegas. Saat melihat sedang menelpon, mereka menegur dengan keras. Agar saya berhenti menelpon sampai pemeriksaan selesai dilakukan.
Tentu saja saya sangat menghargai tugas mereka. Namun sekejab berubah roman wajahnya saat membaca paspor ditangannya. Sikapnya agak reda dan ramah.
Selanjutnya harus melewati pemeriksaan berikutnya. Saya mengalami kesulitan yang tidak pernah diduga sebelumnya. Sebab tidak menyadari kalau tas kosmetik memuat cairan kosmetik yang melebihi aturan yang ada.
Ada yang 200 ml bahkan ada yang 250 ml. Lima item barang yang baru dibeli ini, harus ditinggalkan. Saya sangat menghargai tugas mereka. Sebab itu meminta kesediaan salah satu diantara mereka, untuk mengamankan kosmetik itu. 
 Nantinya selesai kursus, barang-barang ini akan saya ambil kembali. Namun tidak ada satupun anggota Bea Cukai yang bersedia untuk menyimpankannya bagi saya. Tidak ada jaminan.
Beruntung sebelum melangkah masuk ke badan pesawat, ada petugas airlines Garuda Indonesia yang menyanggupi untuk menyimpankannya bagi saya. Syukurlah, sebab kosmetik itu baru saja dibeli dengan harga tidak murah bagi ukuran dompet saya.
Walau demikian, selama penerbangan masih saja memikirkan barang yang tertahan di bandara Soeta. Ach, nantinya pasti juga akan didapatkan kembali. Jujur, saya bukan tipe orang yang mudah menghambur-hamburkan uang. 
Bertolak dari Terminal 2 Internasional Bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Menuju ke bandar udara Tulamarine Melbourne Australia. 

Menempuh jarak 3.228 mil dengan Airbus Garuda Indonesia. Berangkat pukul setengah sebelas malam, tiba esok harinya (23/4) pukul delapan pagi. Ada enam jam tiga puluh menit berada di udara.
Cukup melelahkan. Memasuki wilayah udara Melbourne, tidak ada berkas cahaya matahari. Cuaca di Melbourne susah ditebak. 
Setibanya di Melbourne sangatlah bersyukur. Walaupun kemarin saat di Indonesia hampir saja ketinggalan pesawat karena berusaha untuk mengirimkan uang kepada orangtua dan anak. 
Ditambah lagi, keterlambatan yang diakibatkan upaya komunikasi dengan pihak Bea Cukai yang tidak mengizinkan membawa barang cairan melebihi takaran yang diperbolehkan.
Setibanya di bandar udara Melbourne, dijemput oleh Transport National Australia. Diantarkan ke Defence International Training Center (DITC).
Berlokasi di RAAF Williams di Laverton, Victoria. Kurang lebih dua puluh dua kilometer arah Selatan Barat-nya kota Melbourne, kota kedua terbesar di Australia.
Pose di depan papan nama DITC
Tiba di Melbourne saat akhir pekan, maka ada kesempatan bagi ku untuk menjelajahi kota kedua terbesar di Australia ini. Pas saat itu ada Seconded Market. Ini hanya terjadi sesekali.
Satu hal yang kudapati bahwa kualitas barang terjamin walau harga agak miring. Saya telah memperkirakan bahwa waktu untuk mengenal lebih dekat Australia hanyalah di awal kedatangan ini. Mumpung ada kesempatan. Sedangkan rekan ku dari TNI AD menyempatkan diri untuk mengunjungi adik-kandungnya yang berdomisili di Kota Melbourne. 
Selama di Melbourne, saya mengikuti pelajaran tentang pengenalan akan Australia. Semua partisipan dipusatkan di DITC tepatnya di RAAF Williams Laverton Victoria. Tempat yang menurut saya sangatlah asri. Saya sangat nyaman dengan ketenangan tempat ini.
Banyak burung gagak hitam terbang bergerombolan. Dan seolah tidak takut dengan kehadiran manusia. Teringat akan cerita dongeng tentang Gagak. Sayapun tertarik untuk mengambil gambar Gagak dari dekat. Burung ini terkenal sebagai asistennya Nenek Sihir di cerita-cerita dongeng anak-anak. He..he..
Oh iya, ada tanda peringatan untuk berhati-hati dan perhatikan jalanan. Sebab kawasan ini terkenal dengan ular. Iya, mudahnya ditemukan ular di daratan Australia. Jujur, saya tidak ingin membayangkan hal ini.
Saat itu sudah mulai musim gugur. Cuaca di Melbourne dianggap unik karena selalu berubah-ubah. Saat itu suhu diantara 13-28 derajat Celcius. Udara sudah mulai terasa dingin dan angin sangat kencang berhembus.
Untuk bangun pagi sangatlah dibutuhkan perjuangan. Saya yang berjanji untuk jogging awal pagi hari kadang kebablasan juga sebab udaranya sangat dingin dan lebih mengundang untuk menarik selimut daripada bangun dan bergerak di udara terbuka.
Satu hal yang menarik adalah gedung olahraganya atau tempat fitness dengan berbagai perlengkapannya. Lumayan untuk cycling selama tiga puluh menit. Kalau swimming pool, ach mending saya hindari disaat musim gugur begini. Selesai renang saya bisa-bisa jadi es balok.
Akomodasi yang ditempati oleh peserta putri sangatlah berbeda dengan peserta putra. Putri tinggalnya di block yang masing-masing terdiri dari empat kamar. Dan jaraknya mungkin tiga kilometer dari Condominium putra. 
Tetapi beruntungnya mereka dekat dengan Combined Dining Facility. Jadi tentunya partisipan putra tidak akan melewatkan jam makan pagi. 
Nah, buat kami yang putri, makan pagi berarti jalan tiga kilometer dan berlipat ganda menjadi enam kilometer, sebab pergi-pulang. Kebayang khan jauhnya. Makanya, Lunch Time dan Dinner adalah saat dapat jumpa bersama dengan seluruh peserta dari berbagai negara Asia Pasifik.
Buat peserta dari Asia, meja makan adalah tempat untuk bercengkrama, bertukar cerita. Namun tidak bagi Australia, makan siang dilakukan dengan bergegas sebab pekerjaan menunggu di kantor. Bagi mereka ngobrol adalah saat Tea Time di sore sampai malam hari.
Kelas kami terdiri dari berbagai negara partisipan. Indonesia, Vanuatu, Tonga, Thailand, Filipina, Malaysia, Singapura, Pakistan, Libanon, PNG, Yordania. Namun, semuanya akan terpisah lagi mengikuti kursus masing-masing ke beberapa kota. Ada yang akan ikut SCW dan ada yang ikut SCSC.
Kesan pertama yang saya dapatkan saat pertamakali memasuki block adalah fasilitasnya yang aduhai. Fasilitas untuk berbagi tentunya. Yakni adanya common room berisikan sofa (yang akhirnya sangat jarang kami duduki), meja tamu, TV, DVD Player, Printer. Ada AC, Heater, mesin cuci, mesin pengering, wastafel, hand-basin, seterika, meja seterika, fridge, kettle boiler, kopi-teh-gula (sachet), kamar mandi, toilet.
Sedangkan fasilitas kamar masing-masing adalah PC, meja belajar, almari pakaian, tempat tidur, radio alarm, safey box, kipas angin, heater, gelas dan handuk.
Lucunya, tanda larangan ada dimana-mana. Mulai dari pintu masuk yang berlapis dua itu. Dilarang untuk membanting pintu. Saat menapakkan kaki ke dalam ruang umum, akan didapati lebih banyak larangan lagi.
Matikan TV jika tidak digunakan. Duduk di sofa, kaki jangan diletakkan diatas meja. Bersihkan remah-remah makanan apabila selesai makan di common room.
Masuk ke ruang dapur, apalagi! Banyak aturan yang dipajang di dinding. Lantai tidak boleh basah oleh genangan air sedikitpun. Demikian pula, kamar mandi dan toilet, aturannya berlapis-lapis. Gunakan tisu untuk membilas dan buang ke dalam kloset. Beda khan dengan negeri kita? Tisu dilarang keras dibuang di kloset, dapat menyumbat saluran. Ugh!
Saya membayangkan bagaimana dengan anak saya, apabila saya jejali dia dengan berbagai larangan. Pastinya akan pusing seperti saya, dan serba-salah. Tetapi saya belajar untuk menyesuaikan diri.
Oh iya, hebatnya. Personal Computer yang berada di kamar tidur tidak dapat mengakses apapun dari flashdisc yang saya bawa dari Indonesia. PC nya sudah terlindungi. Apalagi isinya, aman dari konten-konten yang ilegal. Bersih dan terlindungi. PC ini benar-benar hanya untuk belajar semata-mata.
Satu hal lagi, saya salah membawa adaptor. Sehingga kesulitan untuk mengisi listrik alat komunikasi. Adaptor model Australia terpaksa saya beli di toko kelontong dekat Aircraft Station dengan harga tiga setengah dolar.
Pada hari Rabu minggu pertama, kami dibagikan uang saku dari pemerintah Australia melalui bank setempat. Jumlahnya lebih dari cukup untuk membiayai hidup kami selama dua minggu di Australia. Sungguh saya sangat bersyukur. 
Sebab itu, saya tidak merencanakan untuk membelanjakan uang ini di Australia, kecuali keperluan penting seperti simcard Optus seharga $30 agar dapat berkomunikasi dengan anak tersayang di Yogya dan dapat terhubung dengan orangtua di kampung halaman Manado. 
Dan hal ini berlanjut sampai di Canberra. Saya sangat jarang keluar bersama teman-teman ke arah pusat perbelanjaan Canberra. Coklat pesanan anak, hanya itulah yang saya upayakan beli. Ternyata setelah saya banding-banding harganya dengan di Yogya, tidaklah jauh berbeda.
Sarana transportasi di Melbourne sangatlah nyaman. Kami menggunakan kereta (KRL) Metro Train untuk menuju ke pusat kota. Stasiun di pusat kota sangatlah indah arsitekturnya. Namun sebelum dapat menggunakan fasilitas ini, perlu melengkapi diri dengan kartu.
Sejenis ‘e-money’ di dalam tiket. Perlu untuk diisi saldo, saat menggunakannya hanyalah disentuhkan ke mesin touch-on namun jika lupa ataupun sengaja tidak membayar, akan kena denda.
Ada satu kejadian lucu yang rombongan kami alami. Saat kembali dari kota, rekan Yordania ketinggalan dompet dan paspornya di dalam kereta. Kembali dia berlari masuk untuk mengambil barangnya. Namun, naas baginya, tiba-tiba pintu tertutup dengan sendirinya. 
Myki Card
Dia menggedor-gedor pintu, saya yang saat itu berdiri di sisi luar kereta tidak dapat berbuat apa-apa. Hanya bisa memandang, saat kereta dengan perlahan meninggalkan Aircraft Station menuju ke arah selatan. Jadinya, rekan Yordania turun pada stasiun pemberhentian selanjutnya.
Untung saja dia tidak ketinggalan jam makan malam. Saat dia muncul di Combined Dining Facility saya tidak dapat menahan rasa ketawa. Lucu membayangkan saat dia menggedor-gedor pintu kereta yang dengan perlahan meninggalkan kami yang terbengong-bengong, tidak tahu harus berbuat apa. Tetapi syukurlah, dia masih menemukan dompet dan paspornya. Jika tidak, bisa-bisa jadi gelandangan di negeri Kangguru.
 Seminggu berjalan, kami sekelas makin kompak. Apalagi ada beberapa Seniors yang pembawaannya memang kocak dan suka melucu. Perwira yang paling senior adalah Jenderal AD dari Libanon. Kemudian beberapa Letnan Kolonel dari Yordania, Pakistan dan PNG.
Dua hari kemudian, kami berkesempatan mengikuti peringatan Anzac Day di desa Inverleigh. Upacara bersama dengan lembaga sosial masyarakat setempat. Ada juga ibu-ibu yang terlibat dalam kegiatan Palang Merah Internasional. Mereka menyambut rombongan kami dengan sangat ramah. Makanan berlimpah disajikan.
Bercakap-cakap dengan warga Inverleigh saat Anzac Day
Rombongan kami terdiri dari semua anggota militer dari berbagai bangsa. Saat itu sedang melaksanakan tugas belajar di DITC Melbourne. Pakaian seragam warna-warni menyemarakkan perayaan kali ini.
Unik, sebab tentara dari kawasan Asia-Pasifik memenuhi jalan. Kesatuan unik yang memancarkan pesan perdamaian ke seluruh dunia.
Hadir pada saat peringatan Anzac Day di Inverleigh Melbourne
Apalagi pakaian dinas yang dikenakan bukanlah celana panjang. Angin dingin seakan membekukan aliran darah diujung jari-jari kaki. Berawal dari pengalaman ini, esoknya membeli stocking di kios seberang Laverton Air Base.
Tibalah saat kami harus pindah ke kota Canberra, dengan pengalaman pesawat domestik. Bayangan saya pesawat ini pastinya besar, tapi ternyata berbeda. Anehnya lagi, bagi ukuran saya orang Asia, pesawat ini termasuk sempit ruang geraknya. Hmm...
Saat boarding sayapun mengalami kesulitan sebab barang bawaan saya lebih tiga kilo. Dari yang diijinkan sebanyak 20kg. Jadi, sayapun membongkar koper, dan memindahkan sebagian barang ke tas jinjing. Dibawa pandangan mata orang-orang yang lagi boarding. Oh my....pengalaman yang tidak mengenakkan. 
Tetapi ternyata, bukan hanya saya saja yang mengalami hal serupa. Rekan dari Pakistan pun diharuskan untuk mengurangi bawaan. Akhirnya mereka menyiasatinya dengan membagi barang bawaan diantara bertiganya.
Setibanya di Canberra kami ditempatkan di Hotel Rex dimana ruang pertemuannya kami gunakan sebagai tempat belajar selama seminggu. Wow, fasilitas hotel ini sangatlah mewah. Beruntung sekali dapat mengikuti kursus singkat ini. Bagiku, yang penting fasilitas gym dan indoor swimming-pool nya yang asyik.
Ada satu waktu kami berkesempatan dinner dengan BRIG Daniel Fortune, DSC and Bar; di avenue Hotel Rex. Selaku penanggungjawab kegiatan SCW di Canberra. 
Dinner dengan Atase Udara di Canberra Aussie
Dinner With Atase Militer
Dinner with Seconded Officer Mj Sumidi
 Sebagian besar pelajar yang mengunjungi DITC disponsor oleh Pemerintah Australia. Kursus strategi komunikasi ini pula difasilitasi oleh Department of Defence’s International Policy Division (IPDIV).
Pendidikan ini adalah forum kolaborasi yang telah di rancang. Untuk memberikan suatu pengertian mendalam kepada partisipan militer internasional. Akan adanya aturan-aturan militer Australia menghadapi informasi publik.
Para partisipan mempelajari tentang kemampuan Informasi Publik Australia. Juga berkontribusi dalam diskusi.
Setiap peserta memiliki kesempatan untuk saling bertukar pendapat. Dan membangun hubungan kerjasama profesional.
Melalui kelompok kerja, kunjungan kerja singkat serta pertemuan sosial. Para penyaji materi berasal dari ADF juga dari pembicara tamu istimewa.
Juga menyediakan forum diskusi tentang tantangan penyelenggaraan operasi strategi komunikasi. Setingkat nasional dan dalam lingkup operasi multinasional.
Tidak hanya itu saja, SCW juga memberikan sudut pandang berbeda. Tentang bagaimana Seksi Media Pertahanan Australia bertanggungjawab dalam menyalurkan informasi publik. 
Seimbang dengan hak publik untuk mengetahui sesuatu. Dan dengan hak organisasi untuk melindungi informasi operasional yang sensitif. Kesemuanya pada dasarnya akan bermuara kepada kredibilitas dan reputasi.
Selanjutnya, SCW dirancang untuk perwira militer dan sipil militer yang akan berperan atau bertanggungjawab. Sesuai dengan pengetahuan keseluruhan akan Penerangan Umum di militer.
Partisipan SCW berasal dari beberapa negara. Yakni, Indonesia, Filipina, Malaysia, Papua New Guinea, Singapura, Libanon, Yordania, Pakistan, Vanuatu, Thailand. 
Walaupun aksen dan dialek bahasa menjadi kendala, namun hubungan kerjasama tetap terjalin dengan baik. Hal ini tampak saat diskusi kelompok digelar. 
Ada juga partisipan yang sangatlah cepat dalam memberikan presentasi. Sedangkan menurutnya, dia akan menjadi gugup apabila ia memperlambat bicaranya.
Pendidikan dengan berbagai bangsa dalam satu kelas, memberikan banyak pelajaran. Saat itu, sebagai Duta Bangsa tentu saja perlu senantiasa mawas diri. Sebab kehadiran di negeri orang berarti mewakili bangsa Indonesia.
Penerimaan Sertifikat Strategic Communication Course
Perjalanan kembali ke Tanah Air memiliki catatan menarik. Berat muatan koper menjadi perhatian tersendiri. Tidak ada toleransi dalam ketentuan. Aturan tetap aturan. Tidak pernah berubah. Dan tidak ada pengecualian. 
Demikian, sekilas berbagi pengalaman dan pengetahuan dalam Strategic Communication Course. Be Professional, Be Loyalty, Be Integrity, Be Courage, Be Innovation teamwork. ***Seluruh isi materi ini merupakan milik intelektual pribadi. Meniru dan menggandakan hal-hal yang dicantumkan dalam materi ini, diluar maupun tanpa seizin Penulis, merupakan pelanggaran hak intelektual dan dapat diproses  sesuai hukum yang berlaku. 













Tidak ada komentar: