Senin, 27 Juni 2016

Untuk Yogya Yang Makin Istimewa



UNTUK YOGYA YANG MAKIN ISTIMEWA

Penulis: Mayor (Sus) Michiko Sanra Moningkey

Jabatan: Kepala Perpustakaan Akademi Angkatan Udara Yogya


            Bagi tentara, perintah komandan adalah diatas segala-galanya. Jadi, berdasarkan Surat Keputusan Kasau Nomor Kep/30-PKS/XII/2015 tanggal 17 Desember 2015. Berangkatlah daku selaku Single-parents beserta anak menuju tempat penugasan baru, Yogyakarta. Melaksanakan perintah mutasi ke kota Yogyakarta.
            Kota istimewa yang makin istimewa dimataku saat tinggal dan bergelut mengadu nasib di kota ini. Anakku semata wayang mengungkapkan kerinduannya untuk tetap tinggal di kota Yogya selamanya.
Keinginan yang wajar sebab memang Yogya sangatlah nyaman dan asri walau juga kemacetan tetap ada. Dan tentunya biaya hidup masih lebih rendah daripada kota metropolitan Jakarta.
            Lepas dari hal itu, penulis lebih tertarik untuk menuliskan perjalanan darat dari Jakarta ke Jogja.
Awalnya turunnya perintah pimpinan TNI AU untuk memperkuat jajaran Akademi Angkatan Udara (AAU), tidaklah pernah terlintas dalam benak.
Tahun 2015, ada tercetus keinginan untuk pindah ke Landasan Udara Sam Ratulangi Manado, tanah kelahiran. Tetapi hal ini tidak diluluskan sebab dulunya tahun 2006 telah pernah berdinas di Manado.
Seterimanya surat keputusan ini, tentunya yang terlintas dipikiranku pertama kali adalah bagaimana caranya untuk sampai di daerah baru? Hidup yang seperti apakah yang akan kutemui disana? Memikirkan pindah sekolah bagi anakku. Memikirkan tempat tinggal baru dan lain-lain.
Semuanya dengan cepat berseliweran dibenakku. Tentu saja daku harus mampu untuk memilah-milah dan meruntunnya satu persatu. Dan yang paling penting adalah mampu mewujudkannya.
Satu hal yang terpenting adalah berdoa.  Banyak rencana, banyak rancangan, namun semuanya sia-sia jikalau tanpa izin dari Tuhan. Jadi, pasrah dan bertelut berdoa adalah satu hal yang paling pertama kulakukan.
Jujur, saat itu ada sedikit kebimbangan yang hampir saja menyurutkan langkahku. Bagiku, kesempatan ini adalah momen yang paling bagus untuk mendidik anakku. Betapa hidup adalah pengambilan berbagai keputusan penting. Salah satunya adalah memutuskan untuk ‘menyetir kendaraan sendiri, lintas kota propinsi untuk sampai ke kota Yogya’.
Banyak pertimbangan yang ada, daku pun tidak malu untuk meminta saran dan pendapat dari teman-teman. Terutama orangtua yang saat ini berada di kota Manado, lain pulau.
Kalau diingat-ingat, ada ketakutan juga sempat timbul dalam hati. Jika membayangkan perjalanan darat yang kulakukan. Jujur, daku tidak tahu rute, tidak pernah melakukan tindakan yang sama pada waktu yang lalu.
Namun, ku kuatkan tekad. Menurutku, sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Saat seperti ini adalah penting untuk mengajarkan anakku kemandirian. Agar dia menyadari bahwa hidup adalah perjuangan. Dan sebagai satu tim, kami pasti mampu untuk menjalani perjalanan ini.
Kamipun start dari kota Jakarta pada pukul tujuh pagi. Udara sangatlah cerah. Dan anakku sangatlah bersemangat memulai petualangan ini.
Selama di highway, ada beberapa kali dia meminta untuk mampir. Yach, hal ini adalah kesempatan untuk bertanya arah jalan ke Yogya. Tapi, inilah yang kusadari, sering mampir inilah yang menyita waktu perjalanan. Sehingga kami tiba pada pukul sepuluh malam di Yogya.
Selama perjalanan, dia sangat bersemangat. Miracle menjadi Navigator ku. Atlas peta ditangan kanannya, Global Positioning System di tangan kirinya. Daku pun lebih cermat memperhatikan petunjuk jalan yang tiangnya berwarna hijau, di sepanjang jalan.
Setiap kali menemukan persimpangan yang meragukan. Terpaksa turun dari mobil dan bertanya kepada warga yang kebetulan berpapasan di jalan.
Satu hal yang membuat laju mobil tetap kencang adalah keinginan agar tidak kemalaman di jalan. Perjalanan dalam keadaan gelap lebih menuntut ekstra tenaga dan kosentrasi. Jadi, mending jalan selama masih ada sinar surya daripada bermandikan cahaya bulan.
Sepanjang perjalanan, pemandangan pedesaan sejauh mata memandang. Angin berhembus sangatlah sejuk. Pemandangan yang tidak biasa ini menjadikan anakku tetap semangat.
Senyum simpul daku saat mendengar ucapannya: “Mama, saya akan temani Mama, saya tidak akan tidur”. Sebab, tentu saja hal ini tidak sesuai dengan kenyataan. Hebatnya, dia telah berusaha untuk tetap terjaga, agar dapat menemani mama-nya menyetir.
Namun, kasihan juga, dia akhirnya tertidur dengan sendirinya. Tetapi ini sudah cukup hebat bagiku. Momen indah ini semakin memperkuat ikatan bathinku dengan anak.
Bagiku, adalah penting untuk dia menyadari bahwa *Life is 10% what happens to you and 90% how you react to it*. Perjalanan ini adalah kelas yang sesungguhnya baginya. Bagiku juga. Untuk belajar menaklukkan keraguan, bertindak dengan percaya dan belajar menikmati hidup.
Ada satu tanjakan yang saya lupa nama daerahnya. Tetapi saat itu mobil harus berjalan dengan sangat perlahan sebab ada kendaraan berat yang berada di depan.
Oh, ini tanjakan yang sangat menegangkan bagiku. Tanjakannya sangat patah, dan sayapun tidak dapat melambung. Takut-takut ada mobil melaju kencang dari arah depan.
Mobil yang saya kendarai adalah kendaraan hasil keringat-lelah selama bertugas setahun di Libanon sebagai Women Peacekeepers. Merek Nissan Cedric tahun 2007 dengan model Classic. Memuat semua apa yang kami butuhkan, bahkan galon minuman dan bekal makanan.
TV yang lumayan lebar layarnya, sepeda fixie, Dispenser, semuanya muat. Orang tidak percaya kalau sepeda fixie dapat terangkut. Tetapi, begitulah. Bagiku mobil ini adalah berkat dariNya. Sangat besar jasa-jasanya.
Kota Yogya kami masuki pada pukul sepuluh malam. Tiba di Landasan Udara Adi Sucipto Km 10. Perjalanan ini adalah penaklukkan akan rasa takut ku sendiri. Dan ternyata daku telah membuktikan, kami telah membuktikan bahwa kami bisa sebagai satu Team.
‘Dengan keteguhan hati, keberhasilan akan kunikmati. Ganjaran diberikan bukan pada awal, melainkan pada akhir perlombaan. Seribu kegagalan mungkin menghadang namun keberhasilan sering terlindung dibalik belokan. Bagaimana aku tahu betapa dekatnya sasaran yang harus kugapai, bila aku enggan menggapai?’.***{Penulis: Mayor (Sus) Michiko Moningkey, sekarang menjabat sebagai Kepala Perpustakaan Akademi Angkatan Udara. Seluruh isi materi ini merupakan milik intelektual pribadi. Meniru dan menggandakan hal-hal yang dicantumkan dalam materi ini, diluar maupun tanpa seizin Penulis, merupakan pelanggaran hak intelektual dan dapat diproses  sesuai hukum yang berlaku}. 





Tidak ada komentar: