Jumat, 24 Juni 2016

KOMANDO!!!


SUARA KOMANDO


Selama ini, cenderung pembaca lebih tertarik pada pembahasan tentang alat utama sistem senjata (Alutsista).  Dan biasanya mengabaikan satu hal yang nyatanya sangat memegang peranan penting dalam kepemimpinan militer.
Komando yang diberikan oleh seorang komandan pasukan akan sangat menentukan keberhasilan misi operasi di medan perang. Ataupun menentukan keberhasilan pelaksanaan upacara parade maupun defile pasukan.
Namun upacara parade bukan hanya tampilan sederetan alat utama sistem senjata. Tetapi pasukan yang digerakkan oleh komando akan sangat memastikan bahwa militer pada suatu negara patutlah dibanggakan.

Penulis tertarik untuk menulis tentang satu hal yang penting ini walau mungkin kelihatannya sepele. 
Komando atau suara aba-aba adalah syarat paling penting bagi kepemimpinan militer. Berhubungan langsung setiap hari dengan dua anasir utama setiap tindakan militer, yakni anak buah dan senjata.
Apakah pada saat seorang komandan sedang memberikan instruksi, melakukan latihan/ gladi upacara. Atau pun sedang memimpin satu peleton di lapangan.
Tugas ini berbeda dengan tugas di dalam staf yang diliputi dengan perencanaan militer dan usaha-usaha meyakinkan atasan.
Sebab itu di lapangan, suara aba-aba adalah suatu modal yang paling berharga. Bagi pelatih militer atau instruktur, modal terbesarnya adalah suara.
Untuk mengembangkan kekuatan militer, para instruktur-lah yang akan membentuk kader-kader yang menjadi inti daripada pembinaan ratusan batalyon-batalyon baru.
Dari kalangan mereka pulalah akan datang instruktur-instruktur yang akan melatih ratusan ribu calon prajurit menjadi tamtama-tamtama gemblengan.
Mereka akan melaksanakan satu-satunya cara latihan yang akan menjamin bahwa anak-buahnya akan tahan uji segera sesudah pelor-pelor beterbangan.
Sebab latihan-latihan dilakukan secara realistis dalam lingkungan dan suasana medan pertempuran yang sesungguhnya.
Melatih anak-buahnya dalam cuaca buruk atau melelahkan mereka dalam gerakan-gerakan latihan yang lama.
Tujuannya adalah untuk menghasilkan orang-orang yang sehat badannya, yang telah terlatih di dalam jabatan militer atau teknis. Dan yang telah terbiasa akan disiplin serta bekerja dalam team kesatuan.
Serta yang mempunyai rasa kebanggaan yang sebesar-besarnya akan kewajibannya. Artinya, yang rohani maupun ketrampilannya telah siap untuk perang.
Singkatnya, baik perwira maupun anak buahnya siap untuk menunjukkan nilainya sebagai militer profesional.
Tentu saja, teknil vokal yang baik juga merupakan hal yang sangat berharga dalam sebagian besar kegiatan kehidupan sipil.
Teknik ini khususnya sangat membantu para pembicara, guru, instruktur, dan semua orang yang kesehariannya menggunakan kekuatan suara dalam pekerjaan mereka.
Namun, perlu digarisbawahi, di dunia kemiliteran, suara aba-aba dari seorang komandan akan sangat menentukan keberhasilan misi di medan perang. Sebab suara seorang komandan-lah yang sangat amat dipercaya oleh pasukannya.
Apa saja yang diperintahkannya akan dilaksanakan dengan penuh kepatuhan oleh prajuritnya.
Di lain sisi, ada kiasan yang sesungguhnya memiliki kebenaran jika disimak. Bahwa nyawa seorang komandan ada di tangan anak buahnya.
Sebab dalam setiap pergerakan pasukan secara beregu di medan operasi. Posisi seorang komandan selalu urutannya ketiga dari depan atau berada di belakang anggota yang bertindak selaku peninjau.
Ataupun selalu berada di urutan kedua dari belakang. Serta senantiasa berjalan bersama-sama dan tak terpisahkan dengan prajurit yang bertugas membawa perlengkapan radio komunikasi.
Otoritas pemimpin atas kelompoknya, dilaksanakan seperti yang sudah diketahui bersama. Adalah melalui orang yang paling senior atau yang tertua dari semuanya. Baik dari segi kepangkatan maupun usia.
Dan ini berarti melalui otoritas suara pemimpinnya, atau dengan adanya aba-aba perintah. Nada suara seorang pemimpin dan caranya dalam memberikan perintah akan menentukan bagaimana instruksinya akan dilaksanakan.
Mayor Jenderal John M. Schofield, Kepala Akademi Militer Amerika Serikat, menyatakan dalam sambutannya di hadapan para kadet.
Bahwa disiplin untuk membentuk suatu pasukan tentara yang dapat diandalkan dalam pertempuran, tidaklah dapat diperoleh dengan menerapkan hal-hal yang kasar ataupun tirani.
Demikian pula sebaliknya, nada suara, apabila diterapkan secara salah, malah lebih memungkinkan ke arah yang menghancurkan daripada membentuk jiwa seorang tentara. (Baca artikel tambahan: Berteriak = membunuh karakter).
Adalah penting untuk memberikan instruksi dan perintah dengan sedemikian rupa, dalam nada suara yang dapat menginspirasi pribadi orang lain.
Sehingga dari dalam pribadi prajurit tidak akan timbul perasaan dendam, yang ada hanyalah keinginan untuk patuh dan taat.
Sedangkan dari sisi lain, apabila suara disalahgunakan, suara aba-aba atau suara perintah yang gagal, akan memupuk kebencian yang kuat dari dalam diri prajurit. Atau pun adanya keinginan untuk tidak taat.
Demikian pula, salah satu cara agar dapat memiliki kedekatan dengan anggota prajurit adalah dengan memiliki kesehatian. Sehati sejiwa.
Seseorang akan merasa dihargai dan dihormati apabila komandannya tidak akan pernah menyerah untuk menginspirasinya.
Sedangkan ada pemimpin yang tidak menghargai bawahannya, sebab ia selalu berhasil menginspirasi orang lain untuk membencinya.
Demikian yang diungkapkan Jenderal abad 19 ini di pusat pendidikan militer, West Point yang terkenal seantero dunia itu.
Dalam mengendalikan pasukan yang besar, suara yang dihasilkan oleh seorang pemimpin apabila tidak tepat akan menjadi satu hal yang akan disesali.
Sebab gagal dalam mengantarkan suatu pengertian yang tepat dan gagal memperoleh tanggapan yang benar.
Kegagalan seorang pemimpin akan nampak dari suaranya. Seperti adanya perasaan tak berdaya, merasa terpaksa, tidak pas waktunya, perintah yang tidak dapat dimengerti. Semua ini menandakan kurangnya latihan.
Beberapa perwira dan bintara seringkali menyerahkan tugas memberi aba-aba ini kepada yang lainnya. Karena kelemahan suara dan kurangnya pengetahuan tentang bagaimana memberdayakan kemampuan suaranya.
Padahal ada beberapa prinsip yang dapat diikuti. Sehingga dapat memberikan perintah yang lebih bersemangat, tanpa ketegangan suara dan tanpa kekuatan fisik maksimal.
Aba-aba perintah pada umumnya sama, seperti pada angkatan militer Australia, Selandia Baru dan UK, masing-masing memiliki aturan.
Sebagian besar pada dasarnya sama, tetapi ada beberapa perbedaan yang signifikan dalam cara pelaksanaannya.
Aba-aba di Kanada sangatlah dekat hubungannya dengan aba-aba dari British. Sementara itu aba-aba dari negara Prancis pada umumnya merupakan hasil terjemahan dari Inggris.
Bagi angkatan bersenjata Kanada, aba-aba untuk pasukan bersenjatanya, dalam bahasa Prancis. Sementara aba-aba untuk pasukannya, dalam bahasa Inggris.
Hal ini digunakan pada satuan-satuan seperti juga pada sekolah bisnis. Baik bahasa Inggris maupun bahasa Prancis aktif digunakan bersama-sama.
 Sedangkan Angkatan Bersenjata Jerman menggunakan dasar perintah untuk ketiga angkatannya. Seperti Angkatan Darat (Deutsches Heer) dan Angkatan Udaranya (Luftwaffe) menggunakan aba-aba yang sama.
Dan Angkatan Lautnya (Deutsches Marine) mempunyai sejumlah besar tambahan aba-aba untuk penugasan di kapal perangnya.
Selain itu, batalyon pengawalnya atau The German ‘Guards Battalion’ of The Federal Department of Defense (‘Wachbataillon’ beim Bundesministerium der Verteidigung) juga memiliki tambahan peraturan tentang aba-aba untuk tugas-tugas kehormatan protokoler.
Sedangkan militer Indonesia sendiri, perintah aba-aba diatur dalam suatu sistem aturan berdasarkan Peraturan Panglima TNI No 46 Tahun 2014.
Mantan Panglima TNI, Jenderal (TNI) Moeldoko dalam suatu kesempatan telah memberikan instruksi. Agar adanya kesamaan dalam Permildas (Peraturan Militer Dasar) di semua angkatan yakni AD, AL, dan AU.
Sehingga berdasarkan instruksi ini telah diadakan penataran khusus. Untuk membahas pembaharuan tentang peraturan militer dasar. Diselenggarakan di kota kembang Bandung pada Februari tahun 2015.
Bersamaan dengan ini telah dihasilkan peraturan lainnya yang saling melengkapi. Yakni Peraturan Panglima TNI No 47 tahun 2014 tentang Peraturan Urusan Dinas Dalam TNI disingkat (PUDD-TNI). 
Juga Peraturan Panglima TNI No 48 tahun 2014 tentang Peraturan Dinas Garnisun TNI disingkat (PDG-TNI). Terakhir adalah Peraturan Panglima TNI No 45 tahun 2014 tentang Peraturan Penghormatan Militer atau (PPM-TNI). 
Selanjutnya yang menjadi ketertarikan kita adalah Peraturan baris berbaris TNI yang adalah peraturan Panglima TNI yang paling terbaru untuk ketentuan baris berbaris.
Sebab di dalam aturan ini dijelaskan tentang aba-aba, yang telah menjadi ketertarikan bahasan artikel ini.
Disebutkan ketentuan umum bagaimana mengatur ketertiban dan keseragaman dalam melaksanakan baris-berbaris di lingkungan TNI.
Di dalam peraturan ini, yang dimaksud dengan peraturan baris-berbaris adalah peraturan tata cara baris berbaris yang diwujudkan dalam bentuk latihan fisik yang diperlukan.
Hal ini untuk menanamkan kebiasaan dan jiwa korsa dalam kehidupan militer dan diarahkan agar terbentuk suatu sikap prajurit berkarakter dan jasmani yang tegap.
Serta tangkas, menumbuhkan disiplin, loyalitas tinggi, kebersamaan dan rasa tanggungjawab sehingga senantiasa mengutamakan kepentingan tugas diatas kepentingan individu.
Lebih jauh lagi disebutkan, aba-aba adalah perintah yang diberikan oleh seorang Komandan atau pemimpin atau pejabat yang tertua, kepada pasukan. Untuk dilaksanakan pada waktunya secara serentak atau berturut-turut secara tepat dan tertib.
Suara komando yang jelas dari seorang pemimpin akan menentukan keberhasilan pelaksanaan tugas dalam misi apapun. Sikap keteladanan seorang pemimpin pula diikuti oleh para bawahannya.
Demikianlah, dalam pertempuran, komandan dan pasukan merupakan kesatuan yang utuh dan tak dapat terpisahkan satu sama lainnya. Melebihi ikatan satu keluarga, sebab itu setiap perkataan akan menentukan nasib masa depan seseorang.
Suara seorang komandan akan meningkatkan kapasitasnya di dalam memimpin dan memberi instruksi. Perwira dan anak-buahnya akan mempunyai kepastian diri, yang hanya dapat dimiliki sesudah pengalaman di lapangan dan sesudah ujian dalam praktek dunia yang nyata.***Seluruh isi materi ini merupakan milik intelektual pribadi. Meniru dan menggandakan hal-hal yang dicantumkan dalam materi ini, diluar maupun tanpa seizin Penulis, merupakan pelanggaran hak intelektual dan dapat diproses  sesuai hukum yang berlaku. 

Artikel Tambahan: Kisah Pulau Solomon.
            Pulau Solomon merupakan negara Melanesia yang terletak di timur Papua New Guinea. Terdiri dari sembilan ratus sembilan puluh sembilan pulau. Dan pulau Solomon menjadi sebuah negeri naungan United Kingdom sejak tahun 1890-an.
Kepulauan Solomon diberi hak kedaulatannya sendiri pada tahun 1976. Negara ini masih menjadi bagian dari negara persemakmuran ‘commonwealth’.
Ada budaya unik dari pulau Solomon, yakni kebiasaan meneriaki pohon. Saat akan membuka lahan untuk bercocok-tanam di dalam hutan, konon, tidak perlu untuk menebang ataupun membakar hutan.
Mereka hanya akan mengitari pohon sambil berteriak-teriak dengan kata-kata kutukan yang kasar dan menghina.
Hal ini akan berlangsung selama empat puluh hari lamanya. Beberapa penduduk yang lebih kuat dan berani akan memanjat hingga ke atas pohon itu.
Lalu, ketika sampai di atas pohon, bersama-sama dengan penduduk yang ada di bawah pohon, mereka akan berteriak sekuat-kuatnya kepada pohon itu.
Mereka lakukan teriakan itu berjam-jam, selama kurang lebih empat puluh hari lamanya. Dan yang terjadi sungguh sangat menakjubkan.
Pohon yang diteriaki itu perlahan-lahan daunnya mulai mengering. Setelah itu dahan-dahannya mulai rontok. Dan akhirnya pohon itu mudah ditumbangkan dan mati.
Jika diperhatikan, tindakan penduduk ini sangatlah aneh. Namun, satu hal pembelajaran yang dapat kita terima. Mereka telah membuktikan bahwa teriakan akan membunuh karakter.
Pernahkah Anda berteriak pada bawahan anda, atau kepada orang yang berada disekeliling anda atau pada siapapun. “Eh, kamu tahu! Anak-buah kayak kamu tuh kalo pergi, aku tidak bakal menyesal! Ada banyak yang bisa gantiin kamu! Sial! Kerja begini saja, kagak becus! Ngapain kamu digaji!?!”.
Ingatlah, setiap kali berteriak kepada seseorang karena merasa marah, jengkel, terhina, terluka, ingatlah pada apa yang dilakukan penduduk primitif pulau Solomon.
Mereka mengingatkan bahwa setiap kali berteriak kepada orang yang dicintai berarti mematikan rohnya.
Teriakan-teriakan yang dikeluarkan karena emosi yang tinggi pada akhirnya akan membunuh karakter dan jiwa orang lain.
Dalam keseharian, teriakan hanya dilakukan saat kita berbicara dengan orang yang berada jauh jaraknya dari posisi kita berdiri.
Mengapa orang yang marah dan emosional menggunakan teriakan padahal jarak mereka sangat dekat bahkan bisa dihitung dengan sentimeter.
Sebab kenyataannya, walau dekat tetapi hati mereka jauh satu sama lain. Itulah sebabnya orang-orang saling berteriak.
Dengan berteriak tanpa sadar telah memulai untuk melukai dan mematikan roh orang lain. Hanya karena perasaan-perasaan dendam, benci ataupun kemarahan yang berkepanjangan.
Menurut penelitian, komponen pikiran kita adalah berupa partikel dan atom. Jadi alam semesta ini bergerak karena atom tersebut saling menarik dan sinkron.
Untuk menjadikan hal-hal di sekitar kita saling berkaitan. Apabila kita memberikan energi positif maka alam akan membalasnya dengan memberikan energi positif juga.
Begitu pula sebaliknya apabila kita menyebarkan energi negatif, maka alam akan membalas dengan menyebarkan energi negatif.
Jadi mulai dari sekarang, jika kita ingin roh orang yang disayangi tetap tumbuh dan berkembang, atau tidak mati, baiklah untuk tidak menggunakan teriakan-teriakan.
Dengan berteriak kepada orang lain, ada dua kemungkinan balasan yang diterima. Dijauhi atau mendapat teriakan balik, sebagai balasannya. Ataupun pita suara rusak seperti yang dialami artis internasional Sam Smith.
Dia menyabet beberapa penghargaan sebab albumnya The Lonely Hour menghabiskan 50 minggu di lima chart album Inggris.
Penyanyi Sam Smith (23) yang nyaris memecahkan rekor The Beatles, haruslah puasa bicara selama tiga minggu dan mengalami operasi pita suara.
Begitu juga, penduduk kepulauan Solomon telah membuktikan bahwa teriakan-teriakan yang dilakukan terhadap makhluk hidup seperti pohon akan menyebabkan benda tersebut kehilangan rohnya. Akibatnya, dalam waktu yang tidak berapa lama, makhluk hidup itu mati.


3 komentar:

Sanra Michiko Moningkey mengatakan...

Komando!

Patria Es Humanidad mengatakan...

Apa kabar Ibu Mayor?

Semoga sehat dan sukses selalu dimanapun bertugas...Amiin Yaa Rabbal 'Alamiin.
Kereen blognya, baru tau kalau Ibu Mayor punya blog.


Salam,


Fahmee

Sanra Michiko Moningkey mengatakan...

@Patria Es Humanidad

Salam hormat,
Terimakasih atas komentarnya di blog saya. Hal ini mendorong saya kembali untuk tetap rajin menulis. Terimakasih ya. Sukses selalu. Hebat fotonya. Saya lihat teman2nya salju semua....hehehehe....

Salam,

Michiko