Entri yang Diunggulkan

Daftar TNI Tidak Pungutan Liar (Kisah Nyata 1)

Gambar
Banyak pertanyaan, pasti memenuhi benak setiap orang yang ingin mendaftar menjadi tentara? Seperti apakah? Harus bagaimanakah? Apa yang harus dilakukan? Apa saja yang perlu dipersiapkan?  Menyeberangi sungai dengan tali tiga, saat pendidikan militer di Pusdikkowad Lembang Bandung Padahal sesungguhnya, mendaftar tentara tidaklah sesulit seperti yang dibayangkan banyak orang. Kadangkala memang, rumor beredar. Sehingga menyurutkan langkah beberapa orang untuk maju berkarir di Tentara Nasional Indonesia . Seperti pertanyaan ini, yang disampaikan dalam blog oleh seorang calon dokter, yang bercita-cita untuk menjadi seorang dokter di lingkungan TNI. “Apa yang harus saya lakukan? Karena informasi untuk masuk menjadi TNI dengan latar-belakang mahasiswa kedokteran sangatlah minim.” “Apalagi saya banyak mendengarkan desas-desus bahwa kalau ingin menjadi perwira TNI itu, haruslah mempunyai kerabat orang besar di TNI itu sendiri”. Demikianlah pertanyaan-pertanyaaan yang pada umumnya terd...

Teknik LCLA Kunci Keberhasilan Penerjunan Logistik di Jalur Gaza

            TNI AU berhasil menjalankan misi bantuan kemanusiaan ke Gaza dengan teknik dropping logistik dari udara pada beberapa waktu lalu di tahun 2025. Sekilas menarik untuk diketahui, bahwa keberhasilan tugas ini bukan hanya pada dropping logistiknya namun pula pada teknik pengepakan palet bundel barang-barangnya.  

GORDA DROP ZONE, Indonesia -- A Container Delivery System pallet is released from a C-130 Hercules with the 36th Airlift Squadron from Yokota Air Base, Japan, during Exercise Cope West 11 over the Gorda drop zone, Indonesia, June 21, 2011. Three Yokota C-130 aircraft and more than 70 Yokota airmen, as well as one Indonesian Air Force C-130 participate in this week-long bilateral field training exercise which is designed to enhance the readiness and combined interoperability between the U.S. and Indonesian Air Forces. (U.S. Air Force photo/ Capt. Raymond Geoffroy).

Dua pesawat C-130J Super Hercules Skadron Udara 31 TNI AU (Indonesian Air Force), A-1339 dan A-1344, sukses melaksanakan airdrop di jalur Gaza. Mereka terbang formasi namun sebelumnya take off dari King Abdullah II Air Base, Amman, Jordania, Minggu (17/08/2025).

Kedua pesawat yang bermesin turboprop sayap tinggi (high wing) buatan Lockheed Amerika Serikat (USA) ini membawa logistik berupa makanan kering, obat-obatan, perlengkapan kesehatan, selimut serta bantuan khusus untuk anak-anak.

Indonesian Loadmaster (TNI AU)
(U.S. Air Force photo/ Capt. Raymond Geoffroy)
.

Hal ini menarik disimak, sebab pengepakan bundel barang logistik menentukan keberhasilan misi. Dikatakan berhasil apabila logistik tiba dengan utuh di tangan saudara-saudara kita yang mengalami tragedi, seperti bencana alam maupun bencana perang.

Selama ini, banyak media memberitakan tentang keberhasilan misi bantuan kemanusiaan yang gilang gemilang, namun kali ini ada baiknya kita mencari tahu siapa pihak lainnya yang menentukan kesuksesan misi kemanusiaan. Dibalik layar objek logistik yang di pasok dari udara, ada seorang Loadmaster.

Lanud Halim, Indonesia - Airman 1st Class Brandon Jenkins, seorang ahli tali temali dari the 374th Logistics Readiness Squadron’s Combat Mobility Flight bekerja sama dengan Indonesian Loadmaster untuk membuat bundel (LCLA) saat materi pengepakan pada Latihan Cope West 11 di Lanud Halim, Juni 2011. Seminar pelatihan, salah satu dari beberapa seminar yang dijadwalkan selama latihan itu, dirancang untuk mendorong pertukaran informasi antara pasukan AS dan Indonesia dan mendorong interoperabilitas yang lebih baik untuk misi gabungan di masa depan. (Foto Angkatan Udara AS/ Kapten Raymond Geoffroy).

Iya, mereka adalah para Indonesian Loadmaster, selain crew pesawat Hercules lainnya! Penulis ingin menceritakan sedikit tentang pengepakan barang logistik saat mengikuti secara melekat Latihan Bersama TNI AU (khususnya Wing I Lanud Halim Perdanakusuma) dengan US Air Force pada bulan Juni tahun 2012 yang lalu.

Saat 2012, pihak USAF diwakili oleh Lt. Gen Stanley T. Kresge selaku Commander 13th Air Force USAF “Hickem Air Force Base” Hawaii, dan pihak Indonesia diwakili oleh Marsdya TNI Dede Rusamsi (saat itu menjabat selaku Wakasau), seperti yang diberitakan pada saat upacara pembukaan latihan bersama Cope West 2012.

            Dalam Latihan Bersama ini, para Indonesian Loadmaster (TNI AU) mendapatkan transfer ilmu tali-temali dari 374th Logistics Readiness Squadron’s Combat Mobility Flight. Senior Airmen Nicholas Gilvin ahli tali-temali dari The 37th Logistics Readiness Squadron Combat Mobility Flight dari Lanud Yokota Jepang, seorang yang ahli tali-temali pengepakan barang.

Secara bersama-sama dengan Indonesian Airmen melakukan LCLA atau pekerjaan pengepakan barang yang rendah biayanya untuk Low-Altitude. Selama pelatihan bersama, kedua angkatan udara, secara langsung mempraktekkannya.

Dengan saling mendukung satu sama lainnya, mereka membuat bundel LCLA, yang merupakan tipe terbaru palet yang pada umumnya digunakan oleh U.S Forces untuk pengangkutan udara. Teknil LCLA ini akan menyuplai bundel palet secara cepat dan efisien, dari udara.

Tampak pula, Airman 1st Class Brandon Jenkins, bekerja bersama Indonesian Loadmaster lainnya membuat sistem angkut kontainer yang akan diterjunkan dari C-130 Hercules TNI AU dan USAF selama Cope West 2012, dengan Gorda sebagai tujuan drop-zone.



            Pesawat Angkut Berat buatan Lockheed USA ini mampu memberikan bantuan logistik berupa makanan, bekal, obat-obatan dan lain-lain yang akan diberikan dengan cara dropping dari udara. Kekuatan dan kehebatannya dalam menjalankan misi kemanusiaan tidak diragukan lagi.

Dengan melihat kondisi geografis jalur Gaza yang berada di tepi garis pantai, maka keunggulan yang dimiliki pesawat Hercules dapat digunakan untuk memasok kebutuhan logistik ke sepanjang garis pantai Jalur Gaza. Terlebih lagi, dengan teknik LCLA atau Bundel Low-Cost Low Altitude maka dijamin misi kemanusiaan ini akan berhasil.

Senior Airmen Nicholas Gilvin ahli tali-temali dari The 37th Logistics readiness Squadron Combat Mobility Flight di Lanud Yokota Jepang  bekerja bersama Indonesian Loadmaster(Foto Angkatan Udara AS/ Kapten Raymond Geoffroy).

Palet sekali pakai ini beratnya 80-500 lb dan diperlengkapi dengan parasut. Parasut ini biasanya dipergunakan untuk pemasokan airdrop atau pasokan melalui udara dimana jalur pemasokan suplai logistik yang tradisional yakni lewat jalur darat dan laut tidak memungkinkan untuk di tempuh.

Teknik pengepakan ini sangat cepat, tepat dan murah, disalurkan ke area-area sulit, terpencil atau sulit dijangkau lewat darat. Parasutnya sekali pakai dikenal dengan nama parasut T-10 yang telah dimodifikasi.

Parasut sekali pakai sangatlah menekan biaya operasi sebab tidak memerlukan parasut yang mahal. Seperti yang kita ketahui, biasanya parasut harganya puluhan juta rupiah.

Parasut ini pula memungkinkan airdrop dilakukan dengan cepat sehingga sangat efisien dan efektif. Serta sangat presisi tempat pendaratannya sebab Hercules dapat dropping dari ketinggian yang rendah sehingga mengurangi benturan paket bansos dengan media tanah.

Metode LCLA ini menjadi andalan untuk menyuplai logistik di mana jalur darat dan laut tidak memungkinkan dilakukan. Jalan satu-satunya melalui udara. Sama seperti kita, saat tiada jalan lain dalam kehidupan ini, satu-satunya cara hanyalah menengadah ke atas memohon pertolongan Tuhan. (Intermezo).

Cara Bundel Low-Cost Low Altitude (LCLA) ini ternyata telah terbukti sangat efektif dan efisien digunakan dalam berbagai latihan dan operasi militer bahkan interoperabilitas dalam misi operasi kemanusiaan di dunia, ke lokasi yang akses daratnya terputus.

A Container Delivery System pallet is released from a C-130 Hercules with the 36th Airlift Squadron from Yokota Air Base, Japan, during Exercise Cope West 11 over the Gorda drop zone, Indonesia, June 21, 2011. 

Pada hari Kemerdekaan RI ke-80 tahun 2025 ini, TNI AU mengukir sejarah di wilayah udara Timur Tengah. Dua pesawat Hercules produksi Lockheed USA, diawaki Penerbang TNI AU Kolonel Pnb Puguh Yulianto, dan Letkol Pnb Alfonsus Fatma Astana Duta, terbang secara formasi melakukan Solidarity Path Operation 2 dari kota Amman Jordania menuju wilayah Gaza.

Menurut Alfonsus yang pernah melaksanakan pendidikan khusus di Atlanta, Amerika Serikat, terbang dengan cara formasi, tidaklah mudah, hal ini seperti dikutip dari tulisan Wadansatgas Merah Putih II Letkol Pnb Alfonsus Fatma Astana Duta, pada Majalah Kedirgantaraan Angkatan Udara Angkasa, edisi oktober 2025.

Pada saat operasi kemanusiaan oleh Satuan Tugas Garuda Merah Putih II di Gaza, jarak diantara kedua pesawat Hercules harus presisi dan stabil. Saat kegiatan air dropping dilakukan, situasinya digambarkan secara gamblang. Ada keheningan terasa, sembari setiap pasang mata Crew maupun Indonesian Loadmaster mengamati satu persatu bundel diterjunkan hingga bundel terakhir meninggalkan badan pesawat.

Terdengar, mesin Hercules dengan iramanya yang stabil, sementara itu para awak fokus dengan tugasnya masing-masing. Saat, ramp door terbuka, yang paling bertanggungjawab saat itu tentulah Loadmaster, yang menghitung dengan cermat setiap detiknya pas waktunya 600ea payung bundel LCLA diterjunkan.

Ramp door Hercules adalah pintu belakang sekaligus jembatan landasan pada pesawat C-130, berukuran kurang lebih 3,12 meter, fungsinya sangat krusial bagi operasi taktis misi militer maupun kemanusiaan sebab memudahkan bundel LCLA memiliki akses langsung ke tanah, sebab konsepnya mirip dengan ramp jalan yang menghubungkan dua ketinggian yang berbeda untuk mobilitas.

Hal ini akan tampak jelas saat menyaksikan video airdrop LCLA pada Latma Indonesian-American Airmen 2012. Latihan ini terbukti meningkatkan kesiapsiagaan penanggulangan bencana alam regional maupun internasional.

Keberhasilan misi kemanusiaan TNI AU di Gaza membuktikan kemampuan, kekuatan dan kesiapan TNI AU melaksanakan misi penugasan oleh Negara Indonesia. Di saat, tidak ada jalan lain yang dapat langsung menjangkau masyarakat Gaza.

Akses darat tidak dapat diharapkan lagi, daripada bantuan logistik jatuh ke tangan orang yang tidak berkepentingan, maka akses udara menjadi satu-satunya cara yang paling masuk akal untuk menolong kemanusiaan. Tidaklah mengherankan apabila misi kemanusiaan di Gaza adalah tugas interoperabilitas bersama belasan negara lainnya di dunia, yang saat itu menjadikan King Abdullah II Air Base, Amman, Jordania, sebagai satu-satunya Landasan Udara yang paling terdekat dengan Jalur Gaza.

Dapat dibayangkan betapa ketat dan strict-nya waktu perizinan untuk take off dan landing, seperti kejadian yang dialami Indonesia saat mengalami bencana Tsunami di Aceh. Suatu tower PLLU akan menghadapi arus lalu lintas udara yang padat dan ramai. Bahasa, tentunya menjadi tantangan tersendiri, apalagi jika ditambah dengan dialek dan aksen bahasa yang berbeda.

Super duper ketatnya jadwal take-off sehingga seluruh Indonesian Airmen diharuskan senantiasa standby. Sebab, walaupun bantuan sosial yang berton-ton telah siap diterjunkan namun memasuki wilayah udara di atas Jalur Gaza memerlukan perizinan khusus dari Israel.

Satgas Garuda Merah Putih II mengemban tanggungjawab yang besar, seluruh prajurit udara yang terlibat telah berhasil menyampaikan solidaritas dan empati bangsa Indonesia.

Pesawat angkut berat Hercules menurunkan kecepatan dan ketinggian terbangnya di garis pantai Gaza untuk akurasi presisi penerjunan barang. Kedua Penerbang TNI AU membuktikan kehebatannya, pengalaman ini menambah kredibilitas mereka.

Sebab terbang di atas wilayah yang damai berbeda dengan melayang di atas wilayah konflik. Padatnya lalu lintas udara sebab mereka harus bergantian melaksanakan airdrop, negara lainnya antri menunggu kesempatan menerjunkan bansos.

Disaat itu pula, mereka hanya menggunakan satu frekuensi radio khusus untuk melaporkan posisi manuver airdrop, kesulitannya lagi crew Hercules tidak melakukan komunikasi langsung dengan pihak DZ (Drop Zone).

Dalam hal ini, dibutuhkan keahlian ditambah feeling serta iman dari Kolonel Penerbang (Pnb) Puguh Yulianto (Komandan Satgas sehari-harinya menjabat Komandan Wing Udara I Lanud Halim). Dan Letkol Pnb Alfonsus Fatma Astana Duta. Serta Indonesian Loadmaster dalam melaksanakan penerjunan logistik. Sejarah hebat TNI AU yang terukir di dunia Internasional.***(Indonesian Air Force PA/ Ltc. Michiko Moningkey; Sumber Gambar dan Video: U.S. Air Force photo/ Capt. Raymond Geoffroy).


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar TNI Tidak Pungutan Liar (Kisah Nyata 1)

Seleksi Petembak TNI AU 2017

Women Peacekeepers = Wan TNI PBB UNIFIL 2009-2010