Daftar TNI Tidak Pungutan Liar (Kisah Nyata 1)
Psst.. writing by Michiko Moningkey is here! Michiko is the owner of this blog. Which is the way to explore my mind with writing, sharing many interesting experiences. So that why Michiko named this blog "All things are possible". That however small we may see ourselves, we can still dream big, and that nothing is impossible. That we can pursue any kind of dream we have, as long as we're not giving up, as long as we keep on trying, and as long as we're doing our best.
TNI AU
berhasil menjalankan misi bantuan kemanusiaan ke Gaza dengan teknik dropping
logistik dari udara pada beberapa waktu lalu di tahun 2025. Sekilas menarik
untuk diketahui, bahwa keberhasilan tugas ini bukan hanya pada dropping
logistiknya namun pula pada teknik pengepakan palet bundel barang-barangnya.
![]() |
| GORDA DROP ZONE, Indonesia -- A Container Delivery System pallet is released from a C-130 Hercules with the 36th Airlift Squadron from Yokota Air Base, Japan, during Exercise Cope West 11 over the Gorda drop zone, Indonesia, June 21, 2011. Three Yokota C-130 aircraft and more than 70 Yokota airmen, as well as one Indonesian Air Force C-130 participate in this week-long bilateral field training exercise which is designed to enhance the readiness and combined interoperability between the U.S. and Indonesian Air Forces. (U.S. Air Force photo/ Capt. Raymond Geoffroy). |
Dua pesawat C-130J Super Hercules Skadron Udara 31 TNI AU (Indonesian Air
Force), A-1339 dan A-1344, sukses melaksanakan airdrop di jalur Gaza. Mereka
terbang formasi namun sebelumnya take off dari King Abdullah II Air Base,
Amman, Jordania, Minggu (17/08/2025).
Kedua pesawat yang bermesin turboprop sayap tinggi (high wing) buatan Lockheed Amerika Serikat (USA) ini membawa logistik berupa makanan kering, obat-obatan, perlengkapan kesehatan, selimut serta bantuan khusus untuk anak-anak.
![]() |
| Indonesian Loadmaster (TNI AU) (U.S. Air Force photo/ Capt. Raymond Geoffroy). |
Hal ini menarik disimak, sebab pengepakan bundel barang logistik menentukan keberhasilan misi. Dikatakan berhasil apabila logistik tiba dengan utuh di tangan saudara-saudara kita yang mengalami tragedi, seperti bencana alam maupun bencana perang.
Selama ini, banyak media memberitakan tentang keberhasilan misi bantuan
kemanusiaan yang gilang gemilang, namun kali ini ada baiknya kita mencari tahu
siapa pihak lainnya yang menentukan kesuksesan misi kemanusiaan. Dibalik layar
objek logistik yang di pasok dari udara, ada seorang Loadmaster.
![]() |
Lanud Halim, Indonesia - Airman 1st Class Brandon Jenkins, seorang ahli tali temali dari the 374th Logistics Readiness Squadron’s Combat Mobility Flight bekerja sama dengan Indonesian Loadmaster untuk membuat bundel (LCLA) saat materi pengepakan pada Latihan Cope West 11 di Lanud Halim, Juni 2011. Seminar pelatihan, salah satu dari beberapa seminar yang dijadwalkan selama latihan itu, dirancang untuk mendorong pertukaran informasi antara pasukan AS dan Indonesia dan mendorong interoperabilitas yang lebih baik untuk misi gabungan di masa depan. (Foto Angkatan Udara AS/ Kapten Raymond Geoffroy).
Iya, mereka adalah para Indonesian Loadmaster, selain crew pesawat Hercules lainnya! Penulis ingin menceritakan sedikit tentang pengepakan barang logistik saat mengikuti secara melekat Latihan Bersama TNI AU (khususnya Wing I Lanud Halim Perdanakusuma) dengan US Air Force pada bulan Juni tahun 2012 yang lalu.
Saat 2012, pihak USAF diwakili oleh Lt. Gen Stanley T. Kresge selaku Commander
13th Air Force USAF “Hickem Air Force Base” Hawaii, dan pihak Indonesia diwakili oleh Marsdya
TNI Dede Rusamsi (saat itu menjabat selaku
Wakasau), seperti yang diberitakan pada saat upacara pembukaan latihan bersama
Cope West 2012.
Dalam Latihan
Bersama ini, para Indonesian Loadmaster (TNI AU) mendapatkan transfer ilmu tali-temali
dari 374th Logistics Readiness Squadron’s
Combat Mobility Flight. Senior Airmen Nicholas Gilvin ahli
tali-temali dari The 37th Logistics Readiness Squadron Combat Mobility
Flight dari Lanud Yokota Jepang, seorang yang ahli tali-temali
pengepakan barang.
Secara bersama-sama
dengan Indonesian Airmen melakukan LCLA
atau pekerjaan pengepakan barang yang rendah biayanya untuk Low-Altitude. Selama pelatihan bersama, kedua angkatan udara, secara langsung
mempraktekkannya.
Dengan saling
mendukung satu sama lainnya, mereka membuat bundel LCLA, yang merupakan tipe terbaru
palet yang pada umumnya digunakan oleh U.S Forces untuk pengangkutan udara. Teknil LCLA
ini akan menyuplai
bundel
palet secara
cepat dan efisien, dari udara.
Tampak pula, Airman 1st Class Brandon
Jenkins, bekerja bersama Indonesian Loadmaster lainnya membuat sistem angkut kontainer
yang akan diterjunkan dari C-130 Hercules
TNI AU dan USAF selama Cope West 2012, dengan Gorda sebagai tujuan drop-zone.
Pesawat
Angkut Berat buatan Lockheed USA ini mampu memberikan bantuan logistik berupa
makanan, bekal, obat-obatan dan lain-lain yang akan diberikan dengan cara
dropping dari udara. Kekuatan dan kehebatannya dalam menjalankan misi
kemanusiaan tidak diragukan lagi.
Dengan melihat kondisi geografis jalur Gaza yang berada di tepi garis
pantai, maka keunggulan yang dimiliki pesawat Hercules dapat digunakan untuk
memasok kebutuhan logistik ke sepanjang garis pantai Jalur Gaza. Terlebih lagi,
dengan teknik LCLA atau Bundel Low-Cost Low Altitude maka dijamin misi
kemanusiaan ini akan berhasil.
![]() |
Senior Airmen Nicholas Gilvin ahli tali-temali dari The 37th Logistics readiness Squadron Combat Mobility Flight di Lanud Yokota Jepang bekerja bersama Indonesian Loadmaster. (Foto Angkatan Udara AS/ Kapten Raymond Geoffroy).
Palet sekali pakai ini beratnya 80-500 lb dan diperlengkapi dengan parasut. Parasut ini biasanya dipergunakan untuk pemasokan airdrop atau pasokan melalui udara dimana jalur pemasokan suplai logistik yang tradisional yakni lewat jalur darat dan laut tidak memungkinkan untuk di tempuh.
Teknik pengepakan ini sangat cepat, tepat dan murah, disalurkan ke
area-area sulit, terpencil atau sulit dijangkau lewat darat. Parasutnya sekali
pakai dikenal dengan nama parasut T-10 yang telah dimodifikasi.
Parasut sekali pakai sangatlah menekan biaya operasi sebab tidak memerlukan
parasut yang mahal. Seperti yang kita ketahui, biasanya parasut harganya
puluhan juta rupiah.
Parasut ini pula memungkinkan airdrop dilakukan dengan cepat sehingga
sangat efisien dan efektif. Serta sangat presisi tempat pendaratannya sebab
Hercules dapat dropping dari ketinggian yang rendah sehingga mengurangi
benturan paket bansos dengan media tanah.
Metode LCLA ini menjadi andalan untuk menyuplai logistik di mana jalur
darat dan laut tidak memungkinkan dilakukan. Jalan satu-satunya melalui udara.
Sama seperti kita, saat tiada jalan lain dalam kehidupan ini, satu-satunya cara
hanyalah menengadah ke atas memohon pertolongan Tuhan. (Intermezo).
Cara Bundel Low-Cost Low Altitude (LCLA) ini ternyata telah terbukti sangat
efektif dan efisien digunakan dalam berbagai latihan dan operasi militer bahkan
interoperabilitas dalam misi operasi kemanusiaan di dunia, ke lokasi yang akses
daratnya terputus.
![]() |
| A Container Delivery System pallet is released from a C-130 Hercules with the 36th Airlift Squadron from Yokota Air Base, Japan, during Exercise Cope West 11 over the Gorda drop zone, Indonesia, June 21, 2011. |
Pada hari Kemerdekaan RI ke-80 tahun 2025 ini, TNI AU mengukir sejarah di wilayah udara Timur Tengah. Dua pesawat Hercules produksi Lockheed USA, diawaki Penerbang TNI AU Kolonel Pnb Puguh Yulianto, dan Letkol Pnb Alfonsus Fatma Astana Duta, terbang secara formasi melakukan Solidarity Path Operation 2 dari kota Amman Jordania menuju wilayah Gaza.
Menurut Alfonsus yang pernah melaksanakan pendidikan khusus di Atlanta,
Amerika Serikat, terbang dengan cara formasi, tidaklah mudah, hal ini seperti
dikutip dari tulisan Wadansatgas Merah Putih II Letkol Pnb Alfonsus Fatma
Astana Duta, pada Majalah Kedirgantaraan Angkatan Udara Angkasa, edisi oktober
2025.
Pada saat operasi kemanusiaan oleh Satuan Tugas Garuda Merah Putih II di
Gaza, jarak diantara kedua pesawat Hercules harus presisi dan stabil. Saat kegiatan
air dropping dilakukan, situasinya digambarkan secara gamblang. Ada keheningan
terasa, sembari setiap pasang mata Crew maupun Indonesian Loadmaster mengamati
satu persatu bundel diterjunkan hingga bundel terakhir meninggalkan badan
pesawat.
Terdengar, mesin Hercules dengan iramanya yang stabil, sementara itu para
awak fokus dengan tugasnya masing-masing. Saat, ramp door terbuka, yang paling
bertanggungjawab saat itu tentulah Loadmaster, yang menghitung dengan cermat
setiap detiknya pas waktunya 600ea payung bundel LCLA diterjunkan.
Ramp door Hercules adalah pintu belakang sekaligus jembatan landasan pada
pesawat C-130, berukuran kurang lebih 3,12 meter, fungsinya sangat krusial bagi
operasi taktis misi militer maupun kemanusiaan sebab memudahkan bundel LCLA
memiliki akses langsung ke tanah, sebab konsepnya mirip dengan ramp jalan yang
menghubungkan dua ketinggian yang berbeda untuk mobilitas.
Hal ini akan tampak jelas saat menyaksikan video airdrop LCLA pada Latma Indonesian-American Airmen 2012. Latihan ini terbukti meningkatkan kesiapsiagaan penanggulangan
bencana alam regional maupun internasional.
Keberhasilan misi kemanusiaan TNI AU di Gaza membuktikan kemampuan,
kekuatan dan kesiapan TNI AU melaksanakan
misi penugasan oleh
Negara Indonesia. Di saat, tidak ada jalan lain yang dapat langsung menjangkau masyarakat
Gaza.
Akses darat tidak dapat diharapkan lagi, daripada bantuan logistik jatuh ke
tangan orang yang tidak berkepentingan, maka akses udara menjadi satu-satunya
cara yang paling masuk akal untuk menolong kemanusiaan. Tidaklah mengherankan
apabila misi kemanusiaan di Gaza adalah tugas interoperabilitas bersama belasan
negara lainnya di dunia, yang saat itu menjadikan King Abdullah II Air Base,
Amman, Jordania, sebagai satu-satunya Landasan Udara yang paling terdekat
dengan Jalur Gaza.
Dapat dibayangkan betapa ketat dan strict-nya waktu perizinan untuk take
off dan landing, seperti kejadian yang dialami Indonesia saat mengalami bencana
Tsunami di Aceh. Suatu tower PLLU akan menghadapi arus lalu lintas udara yang
padat dan ramai. Bahasa, tentunya menjadi tantangan tersendiri, apalagi jika
ditambah dengan dialek dan aksen bahasa yang berbeda.
Super duper ketatnya jadwal take-off sehingga seluruh Indonesian Airmen diharuskan
senantiasa standby. Sebab, walaupun bantuan sosial yang berton-ton telah siap
diterjunkan namun memasuki wilayah udara di atas Jalur Gaza memerlukan
perizinan khusus dari Israel.
Satgas Garuda Merah Putih II mengemban tanggungjawab yang besar, seluruh
prajurit udara yang terlibat telah berhasil menyampaikan solidaritas dan empati
bangsa Indonesia.
Pesawat angkut berat Hercules menurunkan kecepatan dan ketinggian
terbangnya di garis pantai Gaza untuk akurasi presisi penerjunan barang. Kedua
Penerbang TNI AU membuktikan kehebatannya, pengalaman ini menambah kredibilitas
mereka.
Sebab terbang di atas wilayah yang damai berbeda dengan melayang di atas
wilayah konflik. Padatnya lalu lintas udara sebab mereka harus bergantian
melaksanakan airdrop, negara lainnya antri menunggu kesempatan menerjunkan
bansos.
Disaat itu pula, mereka hanya menggunakan satu frekuensi radio khusus untuk
melaporkan posisi manuver airdrop, kesulitannya lagi crew Hercules tidak
melakukan komunikasi langsung dengan pihak DZ (Drop Zone).
Dalam hal ini, dibutuhkan keahlian ditambah feeling serta iman dari Kolonel
Penerbang (Pnb) Puguh Yulianto (Komandan Satgas sehari-harinya menjabat
Komandan Wing Udara I Lanud Halim). Dan Letkol Pnb Alfonsus Fatma Astana Duta.
Serta Indonesian Loadmaster dalam melaksanakan penerjunan logistik. Sejarah
hebat TNI AU yang terukir di dunia Internasional.***(Indonesian Air Force PA/ Ltc. Michiko Moningkey; Sumber Gambar dan Video: U.S. Air Force photo/ Capt. Raymond Geoffroy).
Komentar
Posting Komentar